BORNEONEWS, Sampit – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit memprakirakan kondisi cuaca di Kabupaten Kotawaringin Timur selama masa mudik Lebaran 2026 relatif aman untuk perjalanan melalui jalur laut, darat maupun udara.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit Mulyono Leo Nardo mengatakan kondisi perairan saat ini cukup kondusif dengan ketinggian gelombang yang masih berada dalam batas aman.
“Untuk prakiraan cuaca arus mudik Idulfitri 2026, kondisi di laut aman karena ketinggian gelombang maksimum sekitar 1,25 meter sehingga kapal besar masih bisa berlayar,” ujarnya di Sampit, Rabu, 11 Maret 2026.
Menurutnya, ketinggian gelombang tersebut masih tergolong aman untuk operasional kapal jenis Ro-Ro (Roll-on/Roll-off) maupun kapal penumpang lainnya yang melayani transportasi laut.
Sementara itu, untuk kondisi cuaca di darat dan udara dalam sepekan ke depan diperkirakan cerah hingga berawan. Meski terdapat potensi hujan, intensitasnya diperkirakan tidak terlalu tinggi.
Hujan diprediksi terjadi pada sore hingga malam hari dengan intensitas sedang sehingga tidak masuk kategori cuaca ekstrem yang dapat mengganggu perjalanan masyarakat.
“Perkiraan curah hujan berada pada kisaran 20 hingga 100 milimeter, sehingga statusnya masih normal,” jelasnya.
Mulyono juga menanggapi kondisi suhu udara yang terasa lebih panas dalam beberapa waktu terakhir. Ia menjelaskan fenomena tersebut dipengaruhi pergerakan posisi matahari yang sedang mendekati garis khatulistiwa.
Meski demikian, kondisi tersebut hanya bersifat sementara karena wilayah Kotawaringin Timur masih berada dalam periode musim hujan. Fenomena ini juga merupakan siklus tahunan yang biasanya terjadi pada bulan Maret.
BMKG juga memperkirakan awal musim kemarau di Kotawaringin Timur baru akan dimulai pada Juni 2026.
Dalam beberapa hari terakhir sempat terdeteksi titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah, namun hujan yang turun berhasil meredam potensi kebakaran lahan.
Meski begitu, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena musim kemarau mendatang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Pada Juni nanti ada potensi kemarau yang lebih panjang sehingga risiko karhutla bisa meningkat. Karena itu masyarakat perlu tetap waspada terhadap perubahan cuaca,” kata Mulyono.









