BORNEONEWS, Jakarta – Pemerintah China mengecam serangan yang menargetkan warga sipil dan fasilitas nonmiliter dalam eskalasi konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menegaskan Beijing tidak mendukung meluasnya serangan yang dapat memperburuk situasi keamanan di kawasan tersebut.
“China tidak mendukung perluasan cakupan serangan dan mengecam tindakan yang menyasar warga sipil serta target nonmiliter di Timur Tengah. Kedaulatan, keamanan, dan integritas wilayah negara-negara Arab harus dihormati,” kata Wang Yi, seperti dikutip Kementerian Luar Negeri China, dalam percakapan telepon dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, Selasa, 10 Maret 2026.
Menurut Wang, eskalasi konflik yang terus meningkat hanya akan menimbulkan kerugian lebih besar bagi semua pihak yang terlibat.
Ia juga mengingatkan bahwa peningkatan ketegangan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan yang saat ini sudah berada dalam kondisi sensitif.
Karena itu, China menilai penyelesaian konflik melalui jalur dialog dan diplomasi merupakan langkah paling rasional bagi semua pihak.
Sebelumnya pada 2 Maret, Kementerian Luar Negeri China juga menyatakan bahwa ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah tidak dapat diterima apabila sampai berdampak negatif terhadap perekonomian global.
Beijing menyoroti pentingnya menjaga stabilitas di jalur perdagangan energi dunia, terutama di Selat Hormuz dan perairan sekitarnya yang menjadi jalur utama distribusi energi dan perdagangan internasional.
Gangguan terhadap jalur tersebut dinilai dapat memicu dampak luas terhadap perdagangan global.
Ketegangan di kawasan meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada 28 Februari, termasuk di ibu kota Teheran.
Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan fasilitas serta korban di kalangan warga sipil.
Sebagai balasan, Iran kemudian meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pada awalnya Washington dan Tel Aviv menyatakan serangan tersebut sebagai langkah “pencegahan” terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan berikutnya kedua negara juga menyampaikan keinginan untuk melihat perubahan kekuasaan di Iran.
Media Iran melaporkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada hari pertama operasi militer tersebut, dan pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam operasi militer Amerika Serikat dan Israel serta mendesak agar dilakukan deeskalasi dan penghentian permusuhan di kawasan.
Sumber: Sputnik/ANTARA









