BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sebenarnya sempat mencuat harapan akan menguatnya kembali harga minyak sawit setelah pada sesi pertama perdagangan Kamis (22/12) bergerak positif berkat dukungan estimasi penurunan produksi.
Namun setelah perdagangan sesi kedua kemarin dibuka, harga minyak sawit Malaysia berangsur bergerak melambat. Apa pemicunya?
Selain aksi ambil untung, sepinya transaksi dan melemahnya harga minyak nabati lain di pasar komoditas India membuat pelaku pasar mulai menahan diri untuk bertransaksi. Akibatnya, harga minyak sawit kembali melemah.
Harga futures minyak sawit untuk kontrak Maret di Bursa Malaysia Derivatives Exchange sempat menguat 0,3 persen menjadi 3.122 ringgit ($697,81) per ton pada sesi pertama Kamis, dengan volume perdagangan tercatat sebesar 10.196 lot.
Tetapi harga mulai tertekan setelah mencuat ekspektasi membaiknya volume produksi minyak kanola (rapeseed) dalam waktu dekat, yang membuat pelaku pasar mulai melakukan aksi ambil untung.
Harga futures minyak kanola untuk kontrak Januari, NRSF7, ditutup merosot 3 persen, menjadi 4.242 rupee ($62,43) per 100 kg, sekaligus pelemahan dalam tujuh sesi berturut-turut.
Untuk kontrak minyak kedelai dan biji kedelai juga berakhir melemah akibat aksi profit taking, kata pelaku pasar seperti dikutip Reuters.
Harga futures minyak kedelai kontrak Januari, NSOF7, di National Commodity & Derivatives Exchange Ltd (NCDEX) turun 0,7 persen menjadi 714,15 rupee per 10 kg, sedangkan kontrak biji kedelai, NSBF7, ditutup turun 1,3 persen menjadi 2.974 rupee.
Sementara itu, harga futures minyak sawit Malaysia mengakhiri perdagangan Kamis dengan penurunan lebih dari satu persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








