JAKARTA –

BORNEONEWS, Tokyo – Para pemimpin negara Kelompok Tujuh (G7) dijadwalkan menggelar pertemuan daring untuk membahas dampak konflik di Timur Tengah terhadap stabilitas pasar minyak global.

Pertemuan tersebut digelar menyusul meningkatnya ketegangan setelah serangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang berpotensi mengganggu pasokan energi dunia.

Dalam agenda tersebut, para pemimpin G7 juga akan membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak secara terkoordinasi guna menstabilkan harga dan pasokan energi global.

Langkah itu muncul sehari setelah Badan Energi Internasional (IEA) dilaporkan mengusulkan pelepasan cadangan minyak dalam jumlah besar melalui pertemuan darurat.

Jika direalisasikan, kebijakan itu berpotensi menjadi respons kolektif terbesar sejak tahun 2022, ketika negara-negara anggota IEA melepas cadangan minyak setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Dari Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi diperkirakan akan mendorong upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah saat pertemuan berlangsung.

Sebelum pertemuan tersebut, Takaichi menyatakan Jepang berencana mulai mengurangi cadangan minyak nasional paling cepat pada Senin depan, tanpa harus menunggu keputusan kolektif dari IEA.

Pemerintah Jepang disebut siap melepaskan cadangan minyak setara 15 hari konsumsi yang dimiliki sektor swasta serta satu bulan konsumsi yang dimiliki pemerintah.

Hingga akhir Desember, Jepang memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 254 hari konsumsi domestik, yang terdiri dari 146 hari cadangan pemerintah, 101 hari milik sektor swasta, serta sisanya disimpan bersama negara produsen minyak.

Kekhawatiran pasar energi global meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran mulai memasang ranjau di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia.

Selat tersebut dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global, sehingga gangguan di wilayah itu dapat berdampak besar terhadap stabilitas pasokan energi dunia.

Sejak serangan terhadap Iran pada akhir Februari, jalur pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami gangguan sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak mentah global.

Sebelumnya, negara-negara anggota G7—yakni Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, bersama Uni Eropa—telah menggelar pertemuan daring tingkat menteri energi.

Dalam pertemuan tersebut, mereka menegaskan kesiapan untuk mengambil berbagai langkah guna menjaga stabilitas pasokan energi, termasuk pelepasan cadangan minyak jika diperlukan.

Laporan Wall Street Journal menyebutkan IEA sempat mengusulkan pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah guna meredam lonjakan harga energi dunia.

Sebagai perbandingan, pelepasan cadangan minyak terbesar sebelumnya terjadi pada 2022 ketika negara-negara anggota IEA melepas sekitar 182 juta barel minyak darurat dalam dua tahap.

Saat ini, negara-negara anggota IEA memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, dengan Amerika Serikat dan Jepang menyimpan sekitar 700 juta barel di antaranya.

Negara anggota IEA diwajibkan memiliki cadangan minyak minimal setara 90 hari impor bersih, sehingga dapat digunakan untuk merespons gangguan serius pada pasokan energi global.

ANTARA