JAKARTA –

BORNEONEWS, Mataram – Sepasang mata balita itu tampak lelah menatap senja yang merunduk di balik pegunungan Sumbawa. Tubuh kecilnya masih bergulat dengan demam tinggi, sementara ruam merah menyebar di kulitnya. Gejala campak yang kini kembali mengintai banyak anak di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Di sejumlah kabupaten, jumlah kasus terus meningkat. Di Kabupaten Dompu, tercatat 216 kasus suspek campak pada awal 2026. Sementara di Kabupaten Bima, pemerintah daerah telah menetapkan Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah ditemukan 306 kasus dan satu kematian.

Berbeda dengan wilayah tersebut, Kota Mataram justru berhasil mempertahankan nol kasus berkat strategi imunisasi yang agresif.

Fenomena ini bukan sekadar deretan angka. Di balik data tersebut terdapat kecemasan orang tua, kerja keras tenaga kesehatan, serta tantangan besar dalam menjaga kekebalan masyarakat terhadap penyakit menular.

Ancaman campak

Campak atau morbili merupakan penyakit yang sangat mudah menular. Virus ini dapat menyebar melalui droplet saat seseorang batuk, bersin, atau bahkan berbicara di ruang tertutup.

Masa inkubasi virus dapat mencapai tiga minggu, sehingga penyebarannya sering kali sulit dideteksi sejak dini. Gejala umum campak meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam merah pada kulit.

Pada beberapa kasus, terutama pada anak-anak dengan daya tahan tubuh rendah, campak dapat menimbulkan komplikasi serius seperti pneumonia, diare berat, hingga radang otak.

Salah satu penyebab utama munculnya kembali kasus campak di NTB adalah menurunnya cakupan imunisasi. Di Kabupaten Lombok Tengah misalnya, capaian imunisasi campak pada Agustus 2025 baru mencapai 49 persen.

Padahal untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) terhadap campak, cakupan imunisasi seharusnya berada di atas 94 persen.

Penurunan imunisasi ini tidak hanya terjadi di NTB. Secara global, cakupan imunisasi menurun setelah pandemi COVID-19, ketika layanan kesehatan terganggu dan perhatian masyarakat teralihkan.

Di Afrika, misalnya, kasus campak dilaporkan meningkat hingga 400 persen pada 2022 akibat terganggunya layanan imunisasi rutin. Situasi serupa juga terlihat di berbagai wilayah Indonesia.

Di NTB, tantangan tersebut diperparah oleh faktor geografis serta ketimpangan akses layanan kesehatan antarwilayah.

Respons kesehatan

Menghadapi ancaman ini, berbagai daerah di NTB mengambil langkah berbeda.

Pemerintah Kabupaten Dompu menyiapkan Outbreak Response Immunization (ORI), yaitu program imunisasi respons cepat yang menyasar anak usia 9 hingga 59 bulan untuk meningkatkan cakupan imunisasi hingga 95 persen.

Program tersebut juga disertai penyelidikan epidemiologi untuk memutus rantai penularan campak.

Sementara itu, Kota Mataram memilih pendekatan preventif yang lebih menyeluruh. Pemerintah setempat memaksimalkan layanan imunisasi di puskesmas, melakukan skrining sejak bayi lahir, serta menerapkan sistem jemput bola bagi anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Strategi ini terbukti efektif dengan keberhasilan Mataram mempertahankan status nol kasus campak.

Keberhasilan tersebut didukung oleh tiga faktor utama, yakni data sasaran imunisasi yang akurat, mobilisasi tenaga kesehatan yang aktif menjangkau masyarakat, serta komunikasi risiko yang efektif kepada orang tua.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Rendahnya literasi kesehatan di beberapa komunitas membuat sebagian orang tua masih ragu membawa anaknya untuk imunisasi.

Selain itu, mitos dan disinformasi tentang vaksin juga menjadi hambatan tersendiri.

Faktor geografis seperti wilayah pesisir terpencil, perbukitan terjal, serta keterbatasan akses layanan kesehatan turut menyulitkan upaya pencegahan penyakit.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pendekatan budaya lokal dinilai penting. Melibatkan tokoh masyarakat, pemuka agama, dan kader kesehatan dapat membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap program imunisasi.

Layanan imunisasi juga perlu diperluas, tidak hanya di puskesmas atau posyandu, tetapi juga melalui kegiatan di sekolah, balai desa, hingga kampung terpencil.

Pemanfaatan teknologi digital untuk memantau cakupan imunisasi secara real-time juga dapat membantu pemerintah mengidentifikasi wilayah yang masih tertinggal.

Harapan ke depan

Kembalinya ancaman campak menjadi pengingat bahwa kesehatan anak tidak boleh diabaikan.

Penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi ini seharusnya tidak lagi menjadi ancaman bagi generasi muda.

Ancaman tersebut dapat diatasi jika seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, hingga orang tua, bergerak bersama meningkatkan cakupan imunisasi.

Imunisasi bukan sekadar suntikan, tetapi investasi masa depan bagi kesehatan masyarakat dan ketahanan bangsa.

Keberhasilan Kota Mataram mempertahankan nol kasus menunjukkan bahwa pencegahan penyakit menular bukan hal yang mustahil.

Ketika setiap anak terlindungi dari campak dan masyarakat memahami pentingnya imunisasi lengkap, maka harapan untuk menciptakan generasi sehat bukan sekadar impian.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah campak bisa diatasi, tetapi apakah kita benar-benar menjadikan kesehatan anak sebagai prioritas utama.

ANTARA