BORNEONEWS, Palangka Raya - Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palangka Raya menganggap lumrah ketika harga naik menjelang hari-hari besar keagamaan seperti Natal 2016, dan juga tahun baru. Lagi pula, kenaikan harga seperti itu, sifatnya insidentil. 

"Itu kan insidentil. Kalau hari-hari biasa paling kita kan beli ayam sedikit saja, setengah kilo mungkin. Besok nggak beli lagi kita. Ada juga yang langganan contohnya pengusaha warung makan. Nah mumpung yang beli banyak, harga dinaikkan. Tapi sedikit saja, tidak banyak. Ini lumrah kok, sudah sistem pasar," ungkap Edy Hendratmo, Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan Distribusi, Disperindag Kota Palangka Raya kepada Borneonews, Jumat (23/12/2016).

Kenaikan yang terjadi menurut Edy juga tidak bisa disebut melonjak karena pantauan tim Disperindag terakhir tanggal 22 Desember 2016, harga ayam ras masih pada angka Rp42.000. Dikonfirmasi terkait harga ayam ras yang sudah mencapai Rp44.000 hingga Rp48.000 di Pasar Kahayan, pasar milik pemerintah, Edy berpendapat itu hanya tindakan oknum.

"Kita ceknya kan di dua pasar. Pasar Besar yang dikelola swasta dan Pasar Kahayan milik pemerintah, per tanggal 22 kemarin harganya masih Rp42.000. Kalau ada yang sampai Rp48.000 itu ulah oknum saja, tidak semua. Jangan dibesar-besarkan lah," pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/N).