BORNEONEWS, Kasongan - Perajin kelotok di Kabupaten Katingan sepi pesanan, setelah tembusnya beberapa badan jalan antardesa dan antarkecamatan. Meski begitu, masih ada warga yang memesan untuk dibuatkan badan kelotok/CES untuk keperluan transportasi sungai/air.
Seperti dialami Johan, perajin kelotok warga Desa Jahanjang, Kecamatan Kamipang, salah satunya. Menurut Johan, tiga empat tahun lalu dalam sebulan sudah bisa dipastikan ada pesanan pembuatan kelotok itu. Selain dari warga biasa, pesanan kelotok ini juga datang dari perusahaan perkebunan maupun pemerintah kecamatan setempat.
"Sejak jalan di desa kami sudah tembus sampai ke Baun Bango dan Kereng Pekahi yang bisa menghubungkan sampai Kasongan tiga tahun lalu, sejak saat itu pesanan kelotok mulai menurun dari sebelumnya Mas," tutur Johan kepada Borneonews, di Kasongan, Jumat (23/12/2016).
Sejak saat itulah bapak tiga anak ini mengaku jika dirinya terpaksa mencari penghasilan dari pekerjaan lain selain membuat badan kelotok/CES itu.
"Kalau yang ini pesanan warga desa, dan sudah seminggu ini saya buat. Lusa kira-kira sudah selesai, tapi sekarang sepi tidak seperti dulu lagi yang banyak pesanan," ujarnya.
Johan mengaku rata-rata satu unit kelotok dengan panjang empat depa orang dewasa lebar sekitar 80 centimeter dijual Rp4 juta rupiah.
"Biasanya harganya kita hitung per depa, yaitu satu depa satu setengah juta. Sedangkan untuk mesinnya tanggungan pemesan menyediakan sendiri, kita hanya menyediakan bahan baku kayu dan menukangnya," katanya.
Selain kayu jenis bungur, Johan mengaku juga memakai kayu jenis damar untuk membuat kelotok atau CES ini. Sedangkan bahan baku didapat dari hutan sekitar desanya. "Kalau ada pesanan sebenarnya lumayan Mas, tapi sekarang membuat kelotok sudah tidak bisa diandalkan lagi, sebab sudah jarang sekali ada pesanan," imbuh Johan.(ABDUL GOFUR/N).








