BORNEONEWS, Sampit – Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit mengimbau masyarakat yang melakukan perjalanan mudik agar menggunakan alat pelindung diri (APD).
Kepala BKK Kelas II Sampit I Gusti Ayu Agung Darmawati mengatakan, imbauan ia sampaikan mengingat saat ini masih terdapat potensi munculnya berbagai wabah penyakit yang dapat menular, terutama pada kondisi kerumunan seperti arus mudik.
"Untuk pemudik harus menjaga kesehatan selama perjalanan. Kami mengimbau agar tidak lupa menggunakan alat pelindung diri dan rutin mencuci tangan. Kadang-kadang anak-anak juga lupa mencuci tangan dengan bersih, padahal ini penting untuk mencegah keluar masuknya penyakit yang berpotensi menular," ujarnya, Senin, 16 Maret 2026.
Perjalanan mudik identik dengan kerumunan penumpang di berbagai titik transportasi, sehingga berisiko menjadi tempat penyebaran penyakit. Karena itu, masyarakat diminta lebih waspada terhadap potensi penularan penyakit menular.
Saat ini terdapat sejumlah penyakit yang menjadi perhatian, di antaranya virus Nipah dan tuberkulosis (TB). Untuk mengantisipasi hal tersebut, BKK Sampit juga melakukan upaya skrining kesehatan di sejumlah titik layanan.
"Kami juga akan melakukan screening TB. Dalam pelaksanaannya tentu perlu koordinasi dengan puskesmas setempat dan Dinas Kesehatan, karena kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus berkolaborasi dengan dinas kesehatan sebagai pemilik wilayah," katanya.
Wilayah kerja BKK Kelas II Sampit mencakup beberapa titik, yaitu di Sukamara, Kuala Pembuang, Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Pos Pelabuhan Sampit, Pelabuhan Kumai, dan Bandara H Asan Sampit.
Namun dari wilayah tersebut, hanya empat lokasi yang melayani penumpang sekaligus menjadi titik layanan cek kesehatan gratis selama masa posko angkutan Lebaran.
Keempat titik tersebut adalah Pelabuhan Sampit, Bandara H Asan Sampit, Bandara Iskandar Pangkalan Bun, dan Pelabuhan Kumai.
Antusias pemeriksaan kesehatan gratis lebih banyak di pelabuhan dibandingkan bandara. Hal ini karena kapasitas penumpang kapal yang lebih besar serta waktu tunggu penumpang yang relatif lebih lama.
"Frekuensi cek kesehatan gratis lebih banyak di pelabuhan, karena kapasitas kapal lebih besar dari pesawat. Selain itu, waktu tunggu penumpang di pelabuhan juga lebih lama sehingga mereka masih sempat melakukan pemeriksaan kesehatan," tambahnya.
Sementara itu, di bandara pemeriksaan kesehatan lebih sulit dilakukan secara maksimal karena penumpang biasanya datang mendekati waktu keberangkatan.
Melalui layanan tersebut, BKK Sampit berharap para pemudik dapat memanfaatkan fasilitas pemeriksaan kesehatan yang disediakan agar perjalanan tetap aman dan terhindar dari risiko penularan penyakit. (DEWI PATMALASARI/R)









