BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Abrasi pantai pesisir selatan Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mulai mengganas, harus segera ditangani sebelum jalan antardesa di Keraya dibangun. Dalam waktu beberapa bulan terakhir, diperkirakan sekitar 8-10 meter wilayah daratan di sejumlah titik di bibir pantai Desa Keraya dilaporkan tergerus abrasi. Dampak keganasan ombak yang dipicu pergerakan angin muson barat itu, kini mulai menyentuh jalan poros di tepian pantai. Satu-satunya cara menyelamatkan badan jalan antardesa itu adalah melakukan mitigasi keganasan abrasi di wilayah daratan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Agus Yuwono mengakui, penanganan jalan penghubung antardesa di Desa Keraya itu merupakan tanggung jawab pemerintah kabupaten. Namun, penanganan peningkatan kualitas jalan dimaksud saat ini akan pecuma dan tidak akan mampu menyelamatkan badan jalan dari ancaman abrasi. Satu-satunya cara menyelamatkan badan jalan dari keganasan abrasi adalah melakukan mitigasi, atau upaya mengurangi dampak negatif deburan ombak yang kuat di pantai.
"Tahun 2017 rencananya mau kita bangun jalannya. Yang pasti oleh kabupaten. Entah dari APBD murni atau DAK APBN. Cuma, kalau kita bangun jalannya, tapi abrasinya tidak ditangani. Mau ditimbun atau diaspal bakal percuma," kata Agus Yuwono, Jumat (23/12/2016).
Salah satunya dengan melakukan pembangunan pemecah ombak di pantai. Akan tetapi, apabila mengandalkan pemerintah, Agus Yuwono khawatir upaya tersebut akan terlambat. Sebab, saat ini pemerintah daerah belum dapat secepatnya melaksanakan pembangunan pemecah ombak. Lantaran harus menunggu alokasi anggaran yang tersedia.
"Sebelumnya tidak sampai ke jalan. Tapi karena pengaruh perubahan musim angin, sekarang jadi ganas. Sehingga harus segera ditangani secepatnya. Cuma, kalau menunggu daerah, perlu berbulan-bulan baru bisa terealisasi. Karena masalah anggaran," kata Agus Yuwono, Jumat (23/12/2016).
Dirinya berharap, upaya penanganan yang bersifat insidental bisa secepatnya dilakukan. Salah satunya dengan cara membuat penahan ombak menggunakan materi atau bahan apa adanya seperti yang dilakukan warga desa setempat secara gotong royong beberapa pekan lalu. Karena tak akan mampu bertahan lama. Upaya insidental tersebut harus dilakukan secara berkelanjutan dan berulang-ulang.
"Bisa menggunakan kayu galam dan karung yang diisi pasir di titik rawan. Jangan ditempatkan di dalam air seperti bangunan pemecah ombak. Tapi di daratan. Yang penting arus air dan ombak yang kuat itu bisa dikurangi dampaknya. Minimal sampai anggaran untuk pembangunan pemecah ombak itu tersedia."
Sebelumnya, Kepala Desa Keraya, Suharmalik mengungkapkan, salah satu penyebab tak terbendungnya abrasi pantai di desanya adalah akibat pelaksanaan pembangunan pemecah ombak yang tidak sesuai prioritas kebutuhannya. Dijelaskannya, karena secara bertahap, pembangunan pemecah ombak seharusnya lebih dulu diprioritaskan atau dikerjakan dari wilayah barat desa. Pasalnya saat musim muson barat terjadi, angin yang bertiup di pesisir pantai desanya, akan sangat kencang dan memicu abrasi pantai yang lebih cepat. (RADEN ARIYO/N).








