PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Ratusan umat Hindu di Kota Palangka Raya memadati tepian Sungai Kahayan, tepatnya di kawasan belakang Tugu Soekarno, Jalan S Parman, untuk mengikuti rangkaian ibadah Melasti, Selasa, 17 Maret 2026.

Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi.

Di bawah tenda yang menghadap langsung ke aliran Sungai Kahayan, umat Hindu terlebih dahulu mengikuti Dharma Wacana sebagai pembuka sebelum prosesi utama Melasti dilaksanakan. Suasana berlangsung khidmat dan diikuti berbagai kalangan umat.

Rektor Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Dr Mujiyono, menjelaskan makna ritual tersebut kepada umat yang hadir.

“Melasti merupakan ritual penyucian yang pelaksanaannya selalu berkaitan dengan sumber air,” ujarnya.

Ia menambahkan, air dalam ritual Melasti memiliki makna simbolis sebagai sarana pembersihan diri dari segala kotoran, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Prosesi Melasti sendiri merupakan tradisi umat Hindu yang dilakukan dengan membawa pratima atau simbol-simbol suci menuju sumber air, seperti laut atau sungai, untuk disucikan.

“Pelaksanaan ritual di tepian Sungai Kahayan ini juga mencerminkan kearifan lokal, di mana umat memanfaatkan sumber air terdekat sebagai bagian dari pelaksanaan ajaran agama,” tambahnya.

Dengan penuh kekhusyukan, umat Hindu berharap melalui ritual Melasti ini dapat memperoleh kesucian diri serta kedamaian dalam menyambut Hari Raya Nyepi. (MARINI/j)