PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Rektor Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang (IAHN-TP) Palangka Raya, Dr. Mujiyono, menekankan bahwa Hari Raya Nyepi tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan bagi umat Hindu, tetapi juga sebagai momentum refleksi yang relevan dalam kehidupan masyarakat yang majemuk.

Menurutnya, Nyepi mengajarkan nilai-nilai universal seperti introspeksi diri, pengendalian hawa nafsu, serta menjaga harmoni dengan sesama manusia dan lingkungan sekitar. Nilai-nilai ini dinilai penting dalam memperkuat kehidupan sosial di tengah keberagaman.

“Makna Nyepi di tengah keberagaman adalah bagaimana kita mampu menahan diri, menghargai perbedaan, dan menciptakan kedamaian bersama,” ujar Dr. Mujiyono, Selasa, 17 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat Nyepi dapat menjadi pengingat bagi seluruh masyarakat untuk saling menghormati antarumat beragama serta menjaga toleransi.

Lebih lanjut, Mujiyono menilai bahwa praktik Nyepi yang identik dengan keheningan justru menjadi simbol kuat dalam membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya keseimbangan antara kehidupan spiritual dan sosial.

"Di daerah seperti Palangka Raya yang dihuni oleh beragam suku dan agama, nilai-nilai Nyepi menjadi relevan sebagai perekat kebersamaan dan keharmonisan masyarakat," tambahnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan momentum Nyepi sebagai sarana memperkuat persatuan serta menjaga kerukunan demi terciptanya kehidupan yang damai dan saling menghargai. (MARINI/j)