BORNEONEWS, Sampit - Sekolah Menengah Pertama (SMA) PGRI II di Desa Terantang, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengalami kekurangan tenaga pengajar. Padahal sekolah tersebut merupakan satu-satunya yang berada di kecamatan tersebut.

"Kami memang kekurangan guru, bahkan hanya ada tiga orang saja yang pegawai negeri sipil (PNS), sisanya hanyalah honorer," ujar Kepala Sekolah SMA PGRI II Rohmad Widianto.

Untuk jumlah tenaga pendidik, hingga saat ini hanya ada 14 orang saja. Dari jumlah trsebut, 11 orang di antaranya adalah honorer yang diangkat oleh yayasan dan dibiayai sekolah.  Dengan adanya hal itu, pihaknya terpaksa memaksimalkan tenaga pendidik yang ada. Setiap guru bisa mengajar dua hingga tiga mata pelajaran.

“Ia satu guru mengajar dua hingga tiga mata pelajaran, kalau tidak seperti itu 167 murid tidak bisa mendapatkan pembelajaran,” lanjut Rohmad. 

Hal tersebut terpaksa dilakukan, walaupun tidak sesuai latar belakang pendidikan guru. Bahkan mereka saat ini juga tidak memiliki tenaga pendidik khusus seperti mata pelajaran Biologi, Sosiologi, Sejarah, Seni, dan Pendidikan Kewarganegaraan. 

“Kami bisa saja menambah guru honorer lagi, namun dana untuk memngajinya tidak ada,” kata Rohmad. 

Sementara untuk SMA PGRI II ini merupakan satu-satunya sekolah di Kecamatan Seranau, yang letaknya berada di perbatasan seberang Kota Sampit-Kecamatan Kota Besi. Akses yang digunakan untuk dapat mencapai tempat itu juga hanya perahu kelotok. Sedangkan untuk muridnya rata-rata penduduk asli daerah itu, namun juga ada yang berasal dari seberang. Sedangkan untuk jurusan yang tersedia di sekolah itu hanya ada dua, yakni Ipa dan Ips. 

Dengan adanya hal itu, tentunya perlu menjadi perhatian pemerintah daerah. Agar ada pemerataan pendidikan higga ke desa dan pelosok. Sehingga mutu dan kualitas pendidikan di daerah ini semakin dapat ditingkatkan. (M HAMIM/m)