JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Anggota Komisi XIII DPR RI, Mafirion, meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras terhadap aktivis HAM, Andrie Yunus.

Desakan tersebut muncul setelah terungkap bahwa empat terduga pelaku merupakan anggota Badan Intelijen Strategis. Mafirion menilai, pengungkapan pelaku lapangan saja belum cukup untuk memberikan keadilan yang menyeluruh.

“Tanpa mengungkap siapa yang memerintah dan motif di balik aksi ini, penegakan hukum hanya menyentuh permukaan tanpa menyelesaikan akar persoalan,” ujarnya, Kamis, 19 Maret 2026.

Ia mengapresiasi langkah aparat yang telah mengungkap pelaku, namun menegaskan proses hukum tidak boleh berhenti pada eksekutor di lapangan.

“Pengungkapan ini patut diapresiasi, tetapi tidak boleh berhenti di situ. Aparat harus membuka siapa aktor intelektualnya dan apa motif di balik kekerasan tersebut agar keadilan benar-benar terwujud,” tegasnya.

Menurut Mafirion, keterlibatan oknum dari institusi negara dalam kasus kekerasan terhadap pembela HAM menjadi peringatan serius bagi kondisi demokrasi di Indonesia.

Ia juga menilai terdapat indikasi upaya sistematis untuk membungkam aktivitas advokasi kemanusiaan melalui aksi teror yang terorganisasi.

“Fakta ini menunjukkan adanya ancaman nyata terhadap penegakan HAM. Negara tidak boleh kalah oleh praktik intimidasi yang mengancam kebebasan sipil,” katanya.

Lebih lanjut, Mafirion menekankan pentingnya mengungkap pihak yang berada di balik peristiwa tersebut, termasuk kemungkinan adanya aktor yang memerintah atau mendanai aksi tersebut.

Ia mengingatkan, kegagalan mengungkap dalang utama hanya akan menimbulkan keraguan publik terhadap komitmen negara dalam melindungi warganya.

Selain itu, ia juga mendorong agar para pelaku dijatuhi hukuman maksimal sebagai efek jera dan bentuk perlindungan terhadap ruang demokrasi.

“Negara harus berani mengungkap siapa yang berada di balik aksi ini. Jika tidak, publik berhak mempertanyakan keseriusan penegakan hukum. Keadilan tidak boleh berhenti di permukaan,” demikian Mafirion.

ANTARA