JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia Jakarta menilai tren menyewa tas mewah untuk kebutuhan Lebaran menjadi indikasi perubahan gaya hidup masyarakat yang semakin cerdas dan rasional.

Ketua APPMI Jakarta, Dana Duriyatna, mengatakan konsumen kini lebih selektif dalam membelanjakan uang dan mempertimbangkan nilai guna dari setiap produk.

“Kami melihat ini sebagai bentuk adaptasi gaya hidup yang cerdas. Konsumen sekarang semakin kritis dan mempertimbangkan value for money,” ujarnya, Kamis, 19 Maret 2026.

Menurutnya, perubahan perilaku ini terlihat dari kecenderungan masyarakat yang mulai beralih dari membeli tas mewah menjadi menyewa, terutama untuk kebutuhan momen tertentu seperti silaturahmi Lebaran.

Alih-alih membeli barang mahal yang hanya digunakan satu atau dua kali, konsumen kini memilih opsi sewa agar tetap tampil menarik dengan biaya yang lebih efisien.

Dana menilai tren tersebut menunjukkan kedewasaan masyarakat dalam mengelola keuangan tanpa harus mengorbankan penampilan.

Ia juga menyebut tas mewah yang diminati umumnya berasal dari desainer lokal papan atas maupun merek internasional ternama, termasuk busana muslim premium yang banyak digunakan saat momen Lebaran.

“Produk dengan detail khas dan material yang terlihat mewah masih menjadi pilihan utama, terutama untuk kebutuhan foto keluarga atau acara open house,” katanya.

Selain faktor ekonomi, tren sewa tas mewah juga dinilai berdampak positif terhadap lingkungan. Konsep ini sejalan dengan prinsip fesyen berkelanjutan atau Sustainable Fashion.

Dengan sistem sewa, satu produk dapat digunakan oleh banyak orang secara bergantian sehingga memperpanjang masa pakai dan mengurangi produksi berlebih.

Hal tersebut dinilai mampu menekan limbah tekstil serta dampak lingkungan dari industri fesyen, termasuk pencemaran mikroplastik akibat produksi massal.

“Ini merupakan langkah positif menuju industri fesyen yang lebih ramah lingkungan,” demikian Dana.

ANTARA