SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Momen mudik Lebaran selalu menghadirkan cerita tersendiri bagi para perantau. Demi bisa berkumpul dengan keluarga di kampung halaman, berbagai cara dilakukan, termasuk rela merogoh kocek lebih dalam dan menempuh perjalanan lebih jauh.

Hal itulah yang dialami Fiadha Aulia Marneta, seorang pekerja di perusahaan sawit Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. Sudah dua tahun merantau, Lebaran menjadi momen yang paling dinantikan untuk pulang ke kampung halaman di Bojonegoro, Jawa Timur.

Namun, rencana mudiknya tahun ini tidak semudah yang dibayangkan. Tiket pesawat dari Pangkalan Bun menuju Surabaya sudah habis jauh hari sebelum Lebaran.

"Harusnya memang pesan tiket itu tiga bulan sebelum Lebaran. Jadi karena kehabisan, akhirnya saya cari alternatif lain lewat Sampit," ujarnya, Kamis, 19 Maret 2026.

Tak ingin kehilangan kesempatan pulang, perempuan yang akrab disapa Neta itu akhirnya memilih berangkat dari Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, meski harus menempuh perjalanan darat lumayan jauh dari tempat kerjanya.

Menurutnya, opsi melalui Sampit menjadi pilihan paling realistis. Pasalnya, jika harus berangkat dari Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, waktu tempuh perjalanan darat bisa mencapai delapan jam, yang dinilai terlalu melelahkan.

"Kalau lewat Palangka Raya terlalu jauh dan makan waktu. Jadi akhirnya pilih dari Sampit saja," katanya.

Ia pun berhasil mendapatkan tiket penerbangan Wings Air rute Sampit–Surabaya sekitar dua minggu sebelum Lebaran. Namun, harga yang harus dibayar cukup tinggi.

"Saya dapat tiket Rp1,8 juta, itu belum termasuk bagasi. Tadi tambah bagasi 8 kilogram sekitar Rp250 ribu," tambahnya.

Harga tersebut jauh lebih mahal dibandingkan penerbangan dari Pangkalan Bun pada hari biasa. Biasanya, tiket Batik Air dari Pangkalan Bun ke Surabaya dibanderol sekitar Rp1,4 juta dan sudah termasuk bagasi. Meski demikian, ia mengaku tidak punya pilihan lain. Baginya, mudik Lebaran adalah momen berharga yang tidak ingin dilewatkan.

"Memang mahal, tapi mau tidak mau tetap pulang. Ini momen setahun sekali. Selagi masih ada orang tua di rumah, rasanya sayang kalau tidak mudik," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)