SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Di tengah tingginya harga tiket pesawat saat musim mudik Lebaran, kapal laut tetap menjadi pilihan utama bagi sebagian perantau di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Bagi mereka, perjalanan panjang di laut bukan sekadar alternatif, tetapi sudah menjadi tradisi tahunan yang penuh makna.

Seperti yang dialami Kurdi, perantau asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang bekerja di perusahaan kelapa sawit di Kecamatan Parenggean. Selama hampir 12 tahun merantau, ia hampir tidak pernah absen mudik setiap Lebaran dan selalu memilih kapal laut sebagai moda transportasi.

"Saya baru bisa pulang sekarang karena cuti dari perusahaan baru saja disetujui. Sudah hampir 12 tahun merantau di sini dan hampir setiap tahun mudik pakai kapal," ujar Kurdi, Kamis, 19 Maret 2026.

Tahun ini, ia kembali berangkat melalui Pelabuhan Sampit menuju Semarang dengan memanfaatkan paket perjalanan dari agen travel. Dengan biaya sekitar Rp1,1 juta, seluruh kebutuhan perjalanan sudah tercakup.

"Saya ambil paket travel, jadi sudah termasuk antar jemput dari tempat kerja ke Pelabuhan Sampit, tiket kapal, sampai travel dari Pelabuhan Semarang ke kampung halaman," tambahnya.

Menurut Kurdi, memilih kapal laut bukan tanpa alasan. Selain lebih ekonomis dibandingkan pesawat yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah, perjalanan menggunakan kapal juga dirasa lebih nyaman.

"Harga tiket kapal jauh lebih murah. Kalau pesawat bisa mahal sekali, belum lagi biaya tambahan travel sampai ke kampung. Kalau ini sudah satu paket, jadi lebih hemat," katanya.

Tak hanya soal biaya, Kurdi juga merasakan adanya peningkatan fasilitas kapal dari tahun ke tahun. Ia menilai kondisi kapal kini jauh lebih baik, tertata, dan tidak lagi sesak seperti dulu. Ia menaiki KM Kelimutu yang bertolak dari Pelabuhan Sampit ke Pelabuhan Tanjung Emas kemarin, Rabu, 18 Maret 2026.

"Sekarang fasilitasnya lebih bagus, tidak berdesakan lagi. Kita juga bisa masuk kapal lebih awal, jadi tidak perlu buru-buru," bebernya.

Meski harus menempuh perjalanan lebih lama dibandingkan pesawat, hal itu tidak menjadi masalah bagi Kurdi. Baginya, yang terpenting adalah bisa pulang dan berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.

Ia pun mengaku sengaja mudik mendekati Lebaran karena menyesuaikan jadwal cuti kerja. Namun, hal itu tidak mengurangi semangatnya untuk pulang.

Setelah menikmati momen Lebaran bersama keluarga di Wonosobo, Kurdi berencana kembali ke Sampit pada 30 Maret 2026 untuk melanjutkan aktivitasnya bekerja. (DEWI PATMALASARI/y)