BORNEONEWS, Washington – Pemerintah Amerika Serikat memastikan tidak akan membatasi ekspor minyak dan gas meski konflik dengan Iran terus memanas dan berdampak pada pasar energi global.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak masuk dalam rencana pemerintah saat ini.
“Untuk memperjelas, pemerintahan Presiden Donald Trump tidak memiliki rencana untuk membatasi ekspor minyak dan gas,” tulisnya melalui media sosial, Kamis.
Ia juga menilai kebijakan energi yang diterapkan saat ini telah mendorong Amerika Serikat menjadi salah satu produsen minyak dan gas terbesar di dunia.
Di sisi lain, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah turut berdampak pada terganggunya distribusi energi global. Salah satu pemicunya adalah terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dari negara-negara Teluk Persia.
Penutupan atau gangguan di jalur tersebut berpengaruh besar terhadap pasokan energi dunia, mengingat sekitar seperlima distribusi minyak global melewati kawasan tersebut .
Untuk menekan lonjakan harga energi, pemerintah AS telah mengambil sejumlah langkah, termasuk melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah besar ke pasar. Selain itu, sejumlah kebijakan lain juga tengah dipertimbangkan, seperti pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia dan peningkatan pasokan dari negara lain.
Dalam laporan media internasional, para petinggi perusahaan energi memperingatkan bahwa gangguan di Selat Hormuz berpotensi memperburuk ketidakstabilan harga minyak dunia.
Sejumlah eksekutif perusahaan besar seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips menilai distribusi energi global akan tetap terganggu selama jalur pelayaran utama tersebut belum sepenuhnya pulih.
Sementara itu, pemerintah AS bersama sekutunya juga terus berupaya membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut guna menjaga kelancaran distribusi energi dunia.
ANTARA









