JAKARTA –

BORNEONEWS, Moskow – Uni Eropa menyerukan Israel untuk menahan diri dan menghentikan serangan di Lebanon guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

Seruan tersebut disampaikan para pemimpin Eropa usai pertemuan Dewan Eropa, Jumat, 20 Maret 2026.

Dalam pernyataannya, Dewan Eropa meminta Israel tidak melanjutkan operasi militer, baik melalui serangan udara maupun darat, serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Lebanon.

Selain itu, semua pihak juga diminta memastikan perlindungan terhadap warga sipil dan infrastruktur penting, serta menghindari tindakan yang berpotensi memicu gelombang pengungsian baru.

Sebelumnya, militer Israel pada 16 Maret mengumumkan dimulainya operasi darat di Lebanon selatan. Langkah tersebut dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi secara internasional pada November 2024.

Di tengah meningkatnya ketegangan, sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipasi. Menteri Pertahanan Italia, Guido Crosetto, bahkan membuka kemungkinan penarikan pasukan Italia dari misi penjaga perdamaian UNIFIL.

“Situasinya sangat kompleks. Jika kehadiran militer tidak lagi efektif, kami memiliki kemampuan untuk memulangkan pasukan ke Italia,” ujarnya.

Ia menambahkan, keputusan terkait penarikan pasukan akan dibahas bersama negara-negara lain yang tergabung dalam misi tersebut.

Sementara itu, Kroasia telah mengevakuasi delapan tentaranya dari misi di Lebanon dan Irak, sebagai langkah pengamanan di tengah situasi yang tidak menentu.

Langkah serupa juga dilakukan Spanyol yang telah menarik sekitar 100 tentaranya dari Irak, sementara sebagian lainnya masih bertugas di kawasan tersebut.

Ketegangan di Timur Tengah yang terus meningkat memicu kekhawatiran internasional akan meluasnya konflik, terutama jika tidak segera dilakukan upaya deeskalasi oleh pihak-pihak terkait.

ANTARA