PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, menegaskan bahwa arah pembangunan industri sawit kini tidak lagi semata berorientasi pada produksi, melainkan juga pada keberlanjutan. Menurutnya, inovasi hijau menjadi kunci agar sawit tetap relevan di tengah tuntutan global terhadap praktik ramah lingkungan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa sawit Kalteng mampu menjadi motor ekonomi sekaligus penjaga ekosistem,” ujar Rawing pada Senin, 23 Maret 2026.

Rawing menjelaskan, sejumlah perusahaan anggota GAPKI Kalteng telah mulai menerapkan teknologi pengolahan limbah cair menjadi energi biogas, serta sistem irigasi presisi untuk mengurangi penggunaan air. Inovasi ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga mengurangi jejak karbon.

"Efisiensi energi dan pengelolaan limbah adalah dua aspek yang paling nyata dari komitmen inovasi hijau," katanya.

Selain teknologi, GAPKI Kalteng juga mendorong kebijakan perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV). Rawing menekankan bahwa perusahaan sawit wajib menjaga hutan riparian, kawasan gambut, dan habitat satwa endemik.

“Kami tidak ingin sawit dipandang sebagai ancaman. Justru dengan tata kelola yang baik, sawit bisa menjadi mitra konservasi,” tegasnya.

Rawing menilai keberhasilan inovasi hijau tidak bisa dicapai oleh perusahaan saja. Pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat lokal harus dilibatkan dalam perencanaan dan implementasi. GAPKI Kalteng, lanjutnya, berperan sebagai fasilitator agar komunikasi lintas sektor berjalan efektif.

“Kolaborasi ini penting agar kebijakan tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar dirasakan di lapangan,” jelasnya.

Menurut Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini, inovasi hijau juga harus memberi dampak langsung bagi masyarakat. Program pemberdayaan petani plasma, pelatihan praktik budidaya berkelanjutan, serta dukungan terhadap usaha kecil di sekitar perkebunan menjadi bagian dari strategi. “Keberlanjutan tidak hanya soal lingkungan, tetapi juga kesejahteraan manusia. Sawit harus menjadi berkah bagi masyarakat Kalteng,” katanya.  

Dosen Universitas Kristen Palangka Raya atau UKPR ini menutup dengan harapan agar komitmen inovasi hijau ini mampu memperbaiki citra sawit Indonesia di mata dunia. Ia menekankan bahwa sawit Kalteng siap bersaing di pasar global dengan membawa label ramah lingkungan.

“Kami ingin dunia melihat bahwa sawit bukan masalah, melainkan solusi energi, pangan, dan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya. (TESTI PRISCILLA/j)