BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah terus memperkuat ketahanan pangan nasional secara mandiri guna menghadapi ancaman krisis pangan global.
Menurut Mentan, situasi geopolitik dunia saat ini berpotensi memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga pangan, sehingga setiap negara dituntut tidak bergantung pada impor.
“Ketahanan pangan harus diperkuat. Kita tidak boleh bergantung pada negara lain di tengah ancaman krisis global,” ujarnya, seperti dikutip pada Senin, 23 Maret 2026.
Ia mengungkapkan laporan World Food Programme (WFP) memperkirakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut dapat meningkat drastis hingga puluhan juta orang dalam beberapa tahun ke depan.
Kondisi tersebut dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari konflik geopolitik, kenaikan harga energi, hingga terganggunya jalur distribusi global yang berdampak pada inflasi pangan.
Meski demikian, Indonesia dinilai berada di jalur yang tepat menuju kemandirian pangan. Pemerintah tidak hanya fokus meningkatkan produksi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang modern dan berkelanjutan.
Program peningkatan produksi dilakukan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Intensifikasi mencakup penggunaan benih unggul, mekanisasi, pompanisasi, serta peningkatan indeks tanam. Sementara ekstensifikasi dilakukan lewat program cetak sawah dan optimalisasi lahan baru.
“Mandiri dan swasembada adalah target utama. Produksi harus terus ditingkatkan dengan memaksimalkan seluruh potensi yang ada,” katanya.
Pemerintah juga melakukan reformasi besar di sektor pertanian dengan menerbitkan berbagai kebijakan strategis, termasuk penyederhanaan regulasi dan perbaikan tata kelola pupuk.
Distribusi pupuk yang sebelumnya rumit kini dipangkas menjadi lebih sederhana, sehingga berdampak pada penurunan biaya hingga 20 persen serta peningkatan volume distribusi tanpa tambahan anggaran.
Selain itu, modernisasi pertanian melalui mekanisasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi tenaga kerja dan menekan biaya produksi hingga 50 persen, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan petani.
Saat ini, produksi beras nasional tercatat surplus sekitar 34,7 juta ton atau naik sekitar 13 persen dibanding tahun sebelumnya. Cadangan beras pemerintah juga telah menembus lebih dari 4 juta ton.
Untuk jangka panjang, pemerintah juga mulai mengembangkan kawasan pangan baru, termasuk di wilayah Kalimantan melalui program optimalisasi lahan rawa dan pembangunan sistem irigasi modern.
Langkah ini diharapkan menjadi sumber produksi beras baru sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara mandiri pangan.
“Ini momentum bagi Indonesia untuk tidak hanya swasembada, tetapi juga menjadi lumbung pangan dunia,” ujar Amran.
ANTARA









