PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan Tengah pada awal tahun 2026 mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Januari 2026 hanya mencapai US$257,07 juta atau turun 13,56 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala Badan Pusat Statistik Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, menjelaskan seluruh ekspor pada periode tersebut berasal dari komoditas non migas.

“Nilai ekspor Januari 2026 tercatat turun sebesar US$40,33 juta dibanding Januari 2025 yang mencapai US$297,40 juta,” kata Agnes pada Senin, 23 Maret 2026.

Selain nilai, penurunan juga terjadi pada volume ekspor. BPS mencatat total volume ekspor Kalimantan Tengah mengalami penurunan sebesar 1,84 persen jika dibandingkan dengan Januari tahun lalu.

Dari sisi sektor, ekspor hasil industri pengolahan pada Januari 2026 mencapai US$44,68 juta atau berkontribusi 17,38 persen terhadap total ekspor. Namun, angka ini turun cukup dalam, yakni sebesar US$14,57 juta atau 24,59 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Agnes menyebutkan sejumlah komoditas masih mendominasi ekspor industri pengolahan, di antaranya minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, bungkil dan residu, kayu lapis, hingga veneer.

“Penurunan ini mencerminkan dinamika permintaan global serta fluktuasi harga komoditas,” katanya.

Sementara itu, sektor pertambangan tetap menjadi penopang utama ekspor daerah. Nilai ekspor hasil tambang mencapai US$212,39 juta atau berkontribusi 82,62 persen terhadap total ekspor. Meski demikian, sektor ini juga mengalami penurunan sebesar US$23,78 juta atau 10,07 persen dibanding Januari 2025.

Komoditas unggulan dari sektor tambang meliputi batu bara, lignit, serta mineral seperti bijih zirconium, niobium, tantalum, dan zirconium silikat. BPS menilai pergerakan ekspor ke depan masih akan dipengaruhi kondisi pasar global dan permintaan dari negara tujuan utama. (TESTI PRISCILLA/j)