BORNEONEWS, Jakarta — Krisis pasokan energi mulai membayangi Australia setelah sejumlah kapal tanker minyak gagal berlayar akibat konflik di kawasan Teluk Persia.
Menteri Energi Australia Chris Bowen mengonfirmasi sedikitnya enam kapal tanker batal atau mengalami penundaan pelayaran menuju negaranya.
“Kami memahami ada enam kapal yang dibatalkan dari total 81 tanker. Situasi global saat ini memang penuh tantangan,” ujar Bowen dalam wawancara dengan ABC News, Minggu, 23 Maret 2026.
Ia menjelaskan, kapal-kapal tersebut semula dijadwalkan tiba antara pertengahan April hingga pertengahan Mei 2026. Tertundanya pengiriman ini turut memperlambat distribusi minyak ke kilang-kilang di kawasan Asia.
Meski demikian, Bowen memastikan pasokan energi Australia dalam jangka pendek masih aman. Ia menyebut stok cadangan minyak saat ini relatif stabil dan diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu dekat.
Namun, ia mengingatkan kondisi bisa memburuk setelah April 2026, mengingat ketidakpastian jalur pelayaran minyak di tengah eskalasi konflik.
Saat ini, Australia memiliki cadangan bahan bakar sekitar 38 hari untuk bensin, serta masing-masing 30 hari untuk diesel dan bahan bakar pesawat.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, termasuk di ibu kota Teheran, pada 28 Februari 2026.
Serangan tersebut memicu kerusakan infrastruktur serta korban jiwa, dan dibalas Iran dengan serangan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel menyatakan operasi militer itu bertujuan menahan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, belakangan muncul anggapan bahwa serangan tersebut juga berkaitan dengan upaya perubahan kekuasaan di Iran.
Situasi ini berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi global, termasuk distribusi minyak ke kawasan Asia dan Australia.
Sumber: Sputnik/ANTARA









