JAKARTA –

BORNEONEWS, Cirebon - Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa masih menyimpan jejak perjalanan masa lalu di tengah derasnya arus mudik yang kini didominasi jalan tol.

Perjalanan darat di Pulau Jawa kini memperlihatkan dua wajah berbeda. Jalur selatan menawarkan lintasan yang relatif lengang dengan panorama alam yang menenangkan, sedangkan Pantura tetap menjadi urat nadi pergerakan kendaraan sekaligus denyut ekonomi masyarakat.

Menelusuri rute dari Cilacap menuju Yogyakarta hingga Cirebon, perubahan itu terasa nyata. Saat memasuki Semarang, perjalanan sempat diselingi singgah di kawasan Pecinan, tepatnya di sebuah kedai kopi legendaris yang masih mempertahankan proses sangrai tradisional sejak era kolonial.

Tak jauh dari sana, kuliner khas seperti tahu gimbal tetap menjadi pilihan bagi pemudik yang beristirahat sejenak, meski suasana tak seramai hari biasa.

Memasuki kawasan Alas Roban, nuansa berbeda semakin terasa. Jalur berkelok yang dahulu dikenal padat kini cenderung lengang. Beberapa warung yang dulunya ramai terlihat tutup, bahkan terbengkalai.

Di sisi jalan, kawanan monyet masih kerap muncul, sementara sisa kendaraan rusak di beberapa titik menjadi pengingat bahwa jalur ini pernah menjadi salah satu ruas dengan tingkat kerawanan tinggi.

Perubahan mulai tampak saat memasuki wilayah Batang hingga Pekalongan. Aktivitas perlahan kembali hidup, meski belum sepenuhnya ramai. Di Pasar Grosir Batik Setono, sejumlah pemudik mulai berburu oleh-oleh, namun kepadatan belum seperti masa sebelum hadirnya jalan tol.

Di Tegal, geliat justru terlihat di pusat kuliner. Warung sate kambing muda dipadati pengunjung yang memanfaatkan waktu perjalanan untuk beristirahat.

Namun suasana berbeda terlihat di Brebes, yang selama ini dikenal sebagai sentra telur asin. Deretan toko oleh-oleh di jalur utama Pantura kini tampak lebih sepi. Berkurangnya arus kendaraan membuat jumlah pembeli menurun drastis.

“Sekarang pembeli jauh berkurang, paling hanya yang sengaja keluar tol atau warga sekitar,” ujar seorang pedagang, Selasa, 24 Maret 2026.

Menjelang Cirebon, arus kendaraan kembali meningkat meski masih bergerak lancar. Kota ini tetap menjadi salah satu tujuan penting, baik untuk wisata religi maupun persinggahan pemudik.

Perubahan pola perjalanan masyarakat dalam beberapa tahun terakhir menjadi faktor utama pergeseran ini. Jalan tol menawarkan kecepatan dan efisiensi, sementara jalur lama seperti Pantura perlahan bertransformasi menjadi jalur alternatif sekaligus ruang ekonomi lokal.

Meski tak seramai dulu, Pantura tetap hidup dengan ceritanya sendiri—menyimpan kenangan perjalanan, interaksi warga, dan denyut kehidupan yang tak sepenuhnya hilang ditelan zaman.

ANTARA