JAKARTA –

BORNEONEWS, Agam - Gema takbir Idulfitri di Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, terdengar lirih, seolah menyatu dengan duka yang belum sepenuhnya pulih pascabencana banjir bandang.

Di tengah hamparan bebatuan dan sisa reruntuhan, warga berjalan perlahan menuju lapangan terbuka untuk melaksanakan salat Idulfitri. Pakaian serba putih kontras dengan lanskap abu-abu yang ditinggalkan bencana.

Langkah mereka hati-hati, menyusuri jalur tak rata yang dulunya merupakan permukiman. Kini, hanya fondasi miring dan puing bangunan yang tersisa. Di kejauhan, kubah masjid berwarna hijau masih berdiri, menjadi satu-satunya bagian yang bertahan dari terjangan galodo pada akhir November lalu.

Sekitar 250 warga berkumpul di atas lahan yang telah ditimbun batu, yang rencananya akan dibangun kembali menjadi masjid. Di lokasi itu pula, salat Idulfitri digelar secara sederhana, hanya dengan dua pengeras suara seadanya.

Suasana khusyuk terasa saat salat dimulai. Namun ketika khutbah berlangsung, isak tangis pecah di saf jamaah, terutama dari barisan perempuan. Duka kehilangan rumah, pekerjaan, hingga anggota keluarga masih membekas kuat.

Meski demikian, tradisi Lebaran tetap dijalankan. Usai salat, warga saling bersalaman dan berpelukan, mencoba merajut kembali kebersamaan di tengah luka yang belum sembuh.

Di balik kesederhanaan itu, tersimpan pergulatan batin. Lebaran yang seharusnya menjadi momen kemenangan justru datang bersamaan dengan kenangan pahit yang masih membayangi.

Namun, harapan tak sepenuhnya padam. Pada malam takbiran, warga tetap menggelar pawai obor. Anak-anak hingga orang dewasa berjalan bersama, membawa cahaya di tengah gelapnya situasi.

Pawai itu bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi ruang pemulihan—menghidupkan kembali semangat kebersamaan yang sempat tercerai akibat bencana.

Memasuki pagi Idulfitri, kehangatan silaturahmi perlahan menguat. Warga tetap saling mengunjungi, meski harus melewati jalan berbatu dan jalur seadanya.

Bagi sebagian warga, Lebaran kali ini terasa berbeda. Tanpa hidangan mewah dan perayaan meriah, hari raya dijalani dengan sederhana.

“Sekarang terasa berbeda, tapi kami tetap saling mengunjungi keluarga yang masih terjangkau,” ujar salah satu warga, Jumat, 20 Maret 2026.

Di tengah keterbatasan, anak-anak tetap membawa keceriaan. Mereka menjalankan tradisi berkeliling dari rumah ke rumah, menikmati kue Lebaran dan menerima uang hari raya.

Lebaran di Agam kali ini bukan sekadar perayaan, melainkan titik awal untuk bangkit. Di tengah kehilangan yang mendalam, warga berusaha menata kembali kehidupan.

Dalam khutbah Idulfitri, khatib mengingatkan agar masyarakat tidak larut dalam kesedihan. Setiap musibah diyakini membawa hikmah dan harapan untuk masa depan.

Harapan itu pula yang dipegang warga, bahwa di balik duka, selalu ada kekuatan untuk bertahan dan melangkah maju.

Seperti gema takbir yang tetap terdengar, meski pelan—harapan terus hidup, menguatkan langkah warga untuk bangkit dari keterpurukan.

ANTARA