JAKARTA –

BORNEONEWS, Bontang - Deretan vila di atas laut kawasan Bontang Kuala, Kota Bontang, Kalimantan Timur, menjadi pilihan wisata yang menawarkan ketenangan di tengah padatnya aktivitas libur Lebaran.

Di kawasan ini, wisatawan disuguhi pengalaman berbeda. Suara debur ombak yang menghantam tiang kayu ulin terdengar ritmis dari bawah kamar, sementara pemandangan laut terbuka menyambut saat pagi tiba.

Udara pesisir yang segar menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan suasana relaksasi bagi pengunjung yang ingin melepas penat dari rutinitas.

Bontang Kuala yang berada di wilayah Bontang Timur dikenal sebagai permukiman terapung yang kini berkembang menjadi destinasi wisata unggulan. Ribuan rumah panggung berdiri di atas laut dangkal, termasuk puluhan vila yang disewakan bagi wisatawan.

Ketua Adat Bontang Kuala, Jafar, menyebut perkembangan wisata ini tetap berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap aturan.

“Pengelolaan vila dilakukan sesuai ketentuan, termasuk kewajiban pajak dan retribusi,” ujarnya, Selasa, 24 Maret 2026.

Tingginya minat wisatawan membuat pemesanan vila harus dilakukan jauh hari. Untuk momen Lebaran, reservasi bahkan perlu dilakukan sekitar satu bulan sebelumnya.

Selain menginap, wisatawan juga dapat menikmati fasilitas seperti kolam laut yang dilengkapi jaring pengaman, sehingga aman digunakan untuk berendam.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bontang Kuala, Halimah, mengungkapkan jumlah kunjungan saat libur panjang bisa mencapai 1.500 orang per hari.

Wisatawan tidak hanya menikmati suasana laut, tetapi juga berjalan di pelataran kayu ulin yang menjadi spot favorit untuk menikmati senja.

Di balik pesonanya, Bontang Kuala menyimpan sejarah panjang. Kawasan ini telah ada sejak akhir abad ke-18 dan menjadi cikal bakal berdirinya Kota Bontang.

Permukiman ini awalnya dihuni oleh Suku Bajau yang dikenal sebagai pelaut ulung. Jejak sejarah tersebut masih terlihat dari keberadaan Masjid Al Wahhab yang berdiri sejak 1789.

Seiring waktu, Bontang Kuala berkembang menjadi kawasan multietnis dengan ribuan penduduk yang kini tidak hanya bergantung pada sektor perikanan, tetapi juga pariwisata.

Dari sisi kuliner, kawasan ini menawarkan hidangan khas seperti gammi bawis, olahan ikan lokal yang dimasak dengan sambal rempah khas pesisir.

Tradisi masyarakat juga tetap terjaga, seperti pesta laut dan makan bersama di tepi pantai yang memperkuat kebersamaan warga.

Selain itu, warga mulai mengembangkan wisata berbasis budidaya keramba. Puluhan petak keramba kini dimanfaatkan untuk membesarkan ikan bernilai ekonomi tinggi seperti kerapu dan kakap.

Ke depan, konsep wisata ini akan dikembangkan lebih jauh dengan menggabungkan keramba dan restoran apung, sehingga wisatawan bisa menikmati hidangan langsung dari hasil budidaya.

Dengan biaya wisata yang terjangkau, termasuk paket keliling laut, Bontang Kuala menjadi destinasi yang terbuka bagi berbagai kalangan.

Lebih dari sekadar tempat berlibur, kawasan ini menawarkan pengalaman menyatu dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir yang tetap menjaga harmoni di tengah perkembangan zaman.

ANTARA