BORNEONEWS, Ankara - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan adanya perubahan pemerintahan di Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, sekaligus mengklaim adanya dialog intens yang langsung dibantah oleh Teheran.
Dalam wawancara telepon yang dikutip media AS, Trump menyebut situasi yang terjadi di Iran dapat digambarkan sebagai “perubahan rezim”.
Ia juga mengeklaim bahwa Amerika Serikat telah melakukan diskusi intens dengan otoritas Iran, meski tidak merinci pihak yang terlibat maupun lokasi pembicaraan tersebut.
Namun, pemerintah Iran secara tegas membantah klaim tersebut. Para pejabatnya menegaskan tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung antara kedua negara.
Trump menegaskan bahwa Washington tetap bertekad mencapai kesepakatan dengan Iran dan berharap pembicaraan dapat menghasilkan langkah konkret dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Trump juga mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari untuk membuka peluang diplomasi.
Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang memicu korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah negara di Timur Tengah yang menjadi lokasi aset militer AS, termasuk Yordania dan Irak.
Situasi tersebut turut berdampak pada stabilitas kawasan, termasuk gangguan terhadap pasar global dan penerbangan internasional.
ANTARA









