BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Sosok Birute Marija Filomena Galdikas tidak hanya dikenal melalui kiprahnya di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), tetapi juga sebagai bagian dari kelompok ilmuwan perempuan legendaris yang dikenal dengan sebutan “Leakey Angels”.
Istilah “Leakey Angels” merujuk pada 3 perempuan ilmuwan yang direkrut dan dibimbing oleh paleoantropolog terkenal Louis Leakey untuk meneliti serta konservasi primata besar di habitat alaminya.
Selain Birute Marija Filomena Galdikas yang fokus pada orangutan di Indonesia, 2 nama lainnya adalah Jane Goodall yang meneliti simpanse di Tanzania, serta Dian Fossey yang melakukan penelitian gorila di Rwanda.
Ketiganya menjadi pelopor dalam studi primata modern dengan pendekatan jangka panjang di alam liar. Metode yang mereka gunakan kala itu dianggap revolusioner karena mengedepankan observasi langsung terhadap perilaku satwa di habitat aslinya.
Dalam perannya sebagai salah satu “Leakey Angels”, Birute Marija Filomena Galdikas membawa perhatian dunia ke hutan-hutan Kalimantan, khususnya melalui penelitian orangutan yang dilakukannya sejak awal 1970-an.
Kontribusinya melengkapi penelitian yang dilakukan oleh Jane Goodall dan Dian Fossey, sehingga dunia ilmiah memiliki pemahaman yang lebih komprehensif mengenai tiga primata besar, yakni simpanse, gorila, dan orangutan.
Keberadaan “Leakey Angels” tidak hanya mengubah cara pandang ilmiah terhadap primata, tetapi juga memicu gerakan global dalam pelestarian satwa liar dan habitatnya. Ketiganya menjadi simbol kekuatan perempuan dalam dunia sains dan konservasi.
Hingga kini, warisan pemikiran dan penelitian Birute Marija Filomena Galdikas bersama 2 rekannya terus menjadi rujukan penting dalam upaya perlindungan primata dan ekosistem hutan tropis di berbagai belahan dunia. (WAHYU KRIDA/j)









