BORNEONEWS, Jakarta - Pemerintah Inggris mengusulkan penyelenggaraan konferensi tingkat tinggi (KTT) guna membahas keamanan pelayaran di Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk.
Usulan tersebut dilaporkan media Politico yang mengutip seorang pejabat terkait, Selasa, 24 Maret 2026. Inggris disebut ingin memfasilitasi pembentukan koalisi internasional guna menjamin jalur pelayaran tetap aman bagi kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Langkah ini muncul seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan distribusi energi global. Hingga kini, lebih dari 30 negara, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, telah menandatangani pernyataan bersama untuk berkontribusi menjaga keamanan pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam laporan tersebut, KTT direncanakan dapat digelar di London atau Portsmouth.
Ketegangan di kawasan Teluk sendiri meningkat setelah serangan gabungan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan itu menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa.
Iran kemudian melakukan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel dan pangkalan militer milik Amerika Serikat di sejumlah lokasi di Timur Tengah.
Situasi tersebut berdampak langsung pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. Lalu lintas kapal di kawasan itu bahkan sempat terhenti total.
Kondisi ini memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara akibat terganggunya pasokan energi global.
ANTARA









