JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Angkatan Laut Kerajaan Inggris dilaporkan bersiap mengambil peran utama dalam operasi koalisi internasional untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Laporan media The Times pada Selasa, 24 Maret 2026 menyebutkan, pejabat pertahanan Inggris tengah mengkaji rencana pengerahan kapal angkatan laut maupun kapal komersial sewaan yang difungsikan sebagai “kapal induk” bagi sistem otonom tanpa awak.

Teknologi tersebut akan digunakan untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya multinasional yang melibatkan sejumlah sekutu, termasuk Amerika Serikat dan Prancis, guna menjamin keamanan pelayaran komersial.

Sejumlah pejabat menyebut operasi kemungkinan dilakukan dalam beberapa tahap. Fase awal difokuskan pada perburuan ranjau menggunakan sistem otonom yang diluncurkan dari kapal induk.

Tahap berikutnya dapat melibatkan pengerahan kapal permukaan tanpa awak serta kapal perusak Tipe 45 untuk mengawal kapal tanker yang melintas di kawasan tersebut.

“Kami memiliki kemampuan perburuan ranjau otonom yang unggul serta kapal perusak Tipe 45,” ujar seorang pejabat.

Pejabat pertahanan Inggris menduga ranjau laut telah dipasang di kawasan selat, meski masih terdapat jalur aman yang dilintasi sejumlah kapal dari India, Pakistan, dan China.

Situasi keamanan di kawasan Timur Tengah memanas sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Serangan tersebut memicu balasan dari Iran berupa serangan drone dan rudal ke sejumlah target di kawasan.

Akibat eskalasi tersebut, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz terganggu sejak awal Maret. Padahal, sekitar 20 juta barel minyak dunia melewati jalur ini setiap hari.

Gangguan itu turut mendorong kenaikan biaya pengiriman dan harga minyak global.

ANTARA