SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Setelah perayaan Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah, pasar tradisional di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, kembali dipadati pembeli meski harga bahan pangan masih dalam posisi tinggi.

Pantauan di Pasar Al Kamal yang terletak di Jalan Hasan Mansur, Kecamatan Baamang, terlihat antusiasme tinggi dari masyarakat yang kembali berbelanja secara langsung. Pasar yang buka sejak sore hingga malam hari ini hampir seluruh lapaknya dipenuhi pembeli, mulai dari komoditas sayuran, ikan, sembako hingga makanan siap saji.

“Harus ke pasar karena stok keperluan dapur sudah habis. Tapi sudah saya tebak, hari ini pasti berjejal karena habis Lebaran, ternyata benar,” ujar Maria, salah satu pembeli, Rabu, 25 Maret 2026.

Tidak hanya Pasar Al Kamal, pasar tradisional lain di Sampit seperti Pusat Perbelanjaan Mentaya, Pasar Subuh, Pasar Keramat, dan tiga Pasar Sejumput di Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang juga menjadi pusat perbelanjaan warga.

Meski suasana ramai, harga bahan pangan masih terpantau tinggi, tetapi komoditas tersedia cukup lengkap dan beragam. Seperti harga bawang merah dijual antara Rp40.000 hingga Rp60.000 per kilogram, sedangkan bawang putih dibanderol Rp35.000 sampai Rp40.000 per kilogram. Harga cabai rawit masih cukup tinggi, mencapai Rp130.000 hingga Rp180.000 per kilogram dan dijual juga dalam kemasan hemat per ons untuk menarik pembeli.

Harga protein hewani seperti udang berkisar Rp60.000 hingga Rp110.000, ikan selar dan nila masing-masing Rp55.000 per kilogram, patin Rp42.000, tongkol Rp45.000, bawal Rp40.000, ayam potong Rp50.000, daging sapi Rp170.000, tulang sapi Rp150.000, serta cumi-cumi Rp100.000 per kilogram.

Meski harga masih tinggi, kebutuhan konsumsi sehari-hari menjadi alasan utama masyarakat tetap antre membeli. Lusi, pembeli lainnya, berharap harga segera kembali normal.

“Ya harus dibeli karena untuk makan keluarga di rumah. Mudah-mudahan saja kembali normal jadi harga tidak mahal lagi,” ujarnya.

Joko, seorang pedagang di Pasar Al Kamal, menjelaskan bahwa tingginya harga disebabkan oleh pasokan yang belum sepenuhnya pulih. 

“Seperti ayam, itu kan dipasok dari Banjarmasin, pasokannya belum normal sehingga harga belum seperti sebelumnya. Begitu juga sayuran, sebagian malah didatangkan dari Jawa, makanya harganya tinggi kalau pasokan belum normal,” jelasnya.

Kondisi ini menunjukkan tantangan distribusi bahan pangan pasca Lebaran yang masih menjadi perhatian utama agar ketersediaan barang dapat kembali stabil dan harga menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat. (DEVIANA/H)