BORNEONEWS, Jakarta – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengenang Prof. Dr. Birute Mary Galdikas sebagai sosok yang memiliki jasa besar dalam upaya konservasi orangutan dunia.
Birute Galdikas, yang dikenal sebagai salah satu peneliti orangutan terkemuka, dilaporkan meninggal dunia pada usia 79 tahun di Los Angeles, Amerika Serikat.
“Atas nama Kementerian Kehutanan, kami menyampaikan belasungkawa mendalam. Indonesia kehilangan sosok yang telah mendedikasikan hidupnya selama puluhan tahun untuk konservasi orangutan di hutan Kalimantan Tengah,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangannya, Rabu, 25 Maret 2026.
Ia menyebut, kontribusi Birute sangat besar, salah satunya dalam pengembangan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting yang kini dikenal sebagai salah satu pusat konservasi orangutan dunia.
Menurutnya, dedikasi Birute tidak hanya terlihat dari hasil penelitiannya, tetapi juga dari kerja kerasnya yang dilakukan secara konsisten sejak awal 1970-an di pedalaman Kalimantan.
“Jejak perjuangannya dapat dilihat dari bagaimana Tanjung Puting berkembang menjadi kawasan yang terjaga dan menjadi rumah bagi orangutan,” katanya.
Menhut juga mengungkapkan bahwa berdasarkan informasi dari putra almarhumah, Fred, Birute memiliki keinginan untuk dimakamkan di Kalimantan Tengah.
Wasiat tersebut didasari kecintaannya terhadap orangutan dan tanah Kalimantan, serta keinginannya untuk dimakamkan di dekat pusara sang suami.
Pemerintah Indonesia saat ini tengah berkoordinasi terkait proses pemulangan jenazah dari Amerika Serikat ke Tanah Air melalui Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Los Angeles.
Birute Galdikas dikenal sebagai ahli primatologi, aktivis lingkungan, sekaligus penulis yang banyak mengangkat isu pelestarian orangutan, khususnya orangutan Kalimantan.
Atas dedikasinya, ia pernah menerima penghargaan Kalpataru dari Pemerintah Indonesia atas kontribusinya dalam bidang pelestarian lingkungan.
ANTARA









