JAKARTA –

BORNEONEWS, London – Sekitar 1.900 kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan Selat Hormuz, Teluk Persia, sejak meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026.

Data pelacak kapal MarineTraffic pada periode 20–22 Maret menunjukkan ribuan kapal tidak dapat melanjutkan pelayaran akibat terganggunya jalur strategis tersebut.

Penutupan jalur terjadi setelah Iran membatasi akses bagi kapal-kapal yang berkaitan dengan negara yang terlibat dalam serangan pada 28 Februari 2026.

Akibatnya, banyak kapal yang tertahan memilih berlabuh di perairan terbuka sambil menunggu situasi kembali kondusif.

Iran menyatakan kapal dari negara lain tetap diizinkan melintas, selama tidak terlibat dalam konflik dan mematuhi ketentuan keselamatan yang berlaku.

Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, menegaskan aturan baru telah diberlakukan dan kondisi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelumnya.

Berdasarkan data yang dihimpun, kapal yang tertahan terdiri dari berbagai jenis, di antaranya 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak dan bahan kimia, 267 kapal produk minyak, serta 211 tanker minyak mentah.

Selain itu, terdapat ratusan kapal lainnya seperti kapal kargo umum, kapal kontainer, hingga kapal pengangkut gas dan aspal.

Perusahaan analisis Vortexa memperkirakan sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal-kapal yang tertahan tersebut.

Sejumlah perusahaan pelayaran juga terdampak, termasuk perusahaan Jerman Hapag-Lloyd yang melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di kawasan Teluk Persia.

Situasi ini turut berdampak pada lonjakan tarif angkutan laut. Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, menyebut kenaikan dipengaruhi oleh ketegangan geopolitik, harga bahan bakar, serta terbatasnya rute alternatif.

Ia mencatat sejak akhir Februari, indeks tanker minyak mentah meningkat signifikan, diikuti lonjakan pada tarif pengangkutan produk minyak dan kontainer.

Dalam kondisi normal, Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan global, dengan sekitar 30 persen ekspor minyak dunia melalui jalur laut melintasi kawasan tersebut.

Namun, keterbatasan jalur alternatif dan kapasitas distribusi membuat gangguan di selat ini berdampak luas terhadap rantai pasok global.

ANTARA