JAKARTA –

BORNEONEWS, Ankara – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan menargetkan penyelesaian konflik dengan Iran dalam beberapa pekan ke depan guna menghindari perang berkepanjangan.

Laporan media menyebutkan Trump telah menyampaikan secara tertutup kepada para penasihatnya bahwa ia ingin konflik tersebut segera diakhiri dalam waktu dekat.

Mengutip laporan The Wall Street Journal, Trump meyakini situasi dapat diselesaikan dalam hitungan pekan dan meminta timnya tetap mengikuti kerangka waktu tersebut.

Pemerintah AS juga berharap ketegangan mereda sebelum agenda pertemuan penting dengan Presiden China Xi Jinping yang diperkirakan berlangsung pada pertengahan Mei mendatang.

Di sisi lain, konflik dengan Iran turut menjadi tekanan bagi Trump dalam menyeimbangkan kebijakan luar negeri dengan agenda domestik, termasuk menghadapi pemilu paruh waktu.

Sejumlah sekutu disebut mendorong pendekatan militer yang lebih tegas, sementara pihak lainnya memilih jalur diplomasi sebagai solusi.

Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan Trump tetap menginginkan penyelesaian damai, namun siap meningkatkan tekanan jika Iran tidak merespons situasi yang ada.

Menurutnya, Washington bahkan menunda rencana serangan lanjutan terhadap infrastruktur energi Iran setelah adanya pembicaraan yang dinilai produktif dalam beberapa hari terakhir.

Meski demikian, Iran membantah adanya proses negosiasi tersebut.

Leavitt juga menegaskan bahwa jika Iran tidak mengakui posisi militernya, maka AS siap mengambil langkah yang lebih tegas.

Sementara itu, AS dilaporkan telah mengajukan proposal berisi sejumlah poin terkait program nuklir, rudal balistik, hingga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Namun, Iran menolak tawaran tersebut dan mengajukan sejumlah syarat untuk penghentian konflik, termasuk penghentian penuh serangan.

Terkait peluang pertemuan langsung antara kedua pihak, Gedung Putih menyatakan belum ada keputusan resmi dan meminta publik tidak berspekulasi.

Konflik di kawasan Timur Tengah terus memanas sejak serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu yang memicu balasan dari Teheran serta berdampak pada stabilitas global, termasuk distribusi energi dunia.

ANTARA