JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk mengantisipasi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Menurut Bhima, kebutuhan cadangan fiskal semakin penting, terutama untuk mengantisipasi lonjakan subsidi energi.

“Dari sisi APBN, sebenarnya SAL sedang dibutuhkan untuk cadangan pelebaran defisit, khususnya dari subsidi energi,” ujarnya, Kamis, 26 Maret 2026.

Ia menjelaskan, apabila harga minyak dunia berada di kisaran 90–110 dolar AS per barel, pemerintah membutuhkan tambahan anggaran hingga Rp126 triliun untuk menutup subsidi energi.

Dalam kondisi tersebut, Bhima menyarankan pemerintah memanfaatkan SAL dibandingkan memangkas anggaran yang bersifat esensial.

“Kalau SAL sudah dijadikan kredit dan berputar, bisa terjadi ketidakcocokan saat pemerintah membutuhkan tambahan anggaran,” katanya.

Di sisi lain, ia mengkritisi kebijakan penempatan tambahan SAL sebesar Rp100 triliun ke perbankan yang dinilai belum menyasar akar persoalan.

Menurutnya, tantangan utama sektor kredit saat ini bukan pada likuiditas, melainkan rendahnya permintaan kredit.

Per Januari 2026, nilai fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) perbankan tercatat mencapai Rp2.506,47 triliun atau sekitar 22,65 persen dari total plafon kredit.

Sementara itu, pertumbuhan kredit sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) justru mengalami kontraksi 0,5 persen. Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) juga tumbuh di bawah rata-rata kredit umum yang berada di kisaran 5,5 persen.

Bhima mengingatkan, tambahan likuiditas dari SAL berpotensi meningkatkan kredit menganggur, khususnya di bank-bank Himbara.

“Ada kekhawatiran tambahan suntikan SAL justru meningkatkan kredit menganggur. Jika dipaksakan ke program tertentu, bisa berdampak pada penurunan kualitas kredit,” ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menambah penempatan dana SAL sebesar Rp100 triliun ke perbankan menjelang Lebaran.

Dengan tambahan tersebut, total dana SAL yang ditempatkan di perbankan kini mencapai sekitar Rp300 triliun, dengan tujuan menjaga likuiditas di tengah meningkatnya kebutuhan dana masyarakat.

ANTARA