SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Satpel Kalimantan Tengah (Kalteng) mengizinkan buaya yang tertangkap jaring warga di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilepasliarkan ke habitat alaminya.

"Kami sudah berkomunikasi dengan Komunitas Pecinta Reptil terkait buaya yang tertangkap jaring warga di Sampit. Jadi saat ini diamankan di kandang komunitas pecinta reptil untuk selanjutnya akan dilepasliarkan atau dirilis," kata Staf Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Satpel Kalteng Prio Sambodo, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menjelaskan, ukuran buaya tersebut kurang dari 2 meter, sekitar 1,2 meter, mudah untuk mobilisasi rilis ke perairan yang jauh dari permukiman warga. 

"Rencananya malam ini atau besok dirilis oleh komunitas," tambahnya.

Ia mengakui keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan anggaran menjadi tantangan dalam penanganan satwa liar seperti buaya, di wilayah Kalimantan Tengah. Sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), untuk Satpel Kalteng yang berada di Pangkalan Bun hanya memiliki 1 staf.

Kemudian efisiensi anggaran juga menjadi keterbatasan mobilitas di wilayah kerja yang luas. Sehingga pihaknya mengizinkan komunitas untuk melepasliarkan buaya tersebut.

Lanjutnya, penanganan buaya merupakan kewenangan yang baru dialihkan, sehingga masih membutuhkan penyesuaian, termasuk dalam penyusunan sistem penanganan yang lebih terstruktur.

"Kami secara pengelolaan baru tahun ini menangani buaya setelah peralihan kewenangan. Masih banyak hal yang perlu kita susun, termasuk kebutuhan SDM ke depan. Kami meneruskan estafet dari BKSDA, BKSDA pun sudah intensif melakukan sosialisasi. Sehingga kami meneruskan estafet itu khususnya untuk masyarakat di tepi sungai agar berhati-hati," ujarnya.

Lanjutnya, wilayah Kotim sendiri tergolong rawan konflik antara manusia dan buaya. Bahkan dalam satu bulan terakhir, tercatat sudah dua kasus buaya yang terjerat jaring warga.

Prio menambahkan, kemunculan buaya di sekitar permukiman umumnya dipicu oleh aktivitas manusia, seperti membuang sampah ke sungai, membangun kandang ternak di bantaran sungai, hingga memberi makan buaya.

"Buaya itu muncul ketika aktivitas di sungai tinggi. Seperti membuang sampah di sungai, kandang hewan dibangun di dekat sungai, dan ada beberapa kasus memberi makan buaya sehingga buaya ketergantungan. Kami harap masyarakat harus lebih aware," jelasnya.

Ke depan, pihaknya berencana memperkuat koordinasi lintas instansi dalam penanganan konflik satwa liar dengan Dinas Perikanan, BPBD, serta tetap melibatkan BKSDA. Dirinya pun mendukung rencana Dinas Perikanan Kotim untuk membentuk tim terpadu penanganan buaya.

"Sejatinya kami akan mendukung rencana itu, sesuatu yang menjadi kelancaran untuk respon cepat penanganan buaya di Kotim salah satunya dengan membentuk tim terpadu. Dalam waktu dekat kami akan rapat bersama tindak lanjuti pembentukan tim terpadu," pungkasnya. 

Sebelumnya diberitakan, peristiwa tak biasa dialami seorang warga di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Alih-alih mendapat ikan, justru seekor buaya tertangkap jaring saat seorang warga memasang jala di Sungai Marjan.

Warga tersebut, Marliansyah, yang tinggal di Jalan Iskandar 25, mengaku kejadian itu terjadi pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB. Saat itu, ia sedang memasang jaring untuk menangkap ikan seperti biasa.

"Saat memasang patok jala untuk menangkap ikan di sungai marjan lalu buaya itu menabrak jala, memakan ikan di jala. Sekitar pukul 6 pagi buaya itu sudah terjerat di jala," katanya, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menjelaskan, awalnya tidak menyadari ada buaya yang mendekat. Namun, tiba-tiba hewan tersebut muncul dan langsung merusak jala yang telah dipasang. Jaring yang ia pasang pun rusak akibat buaya itu. 

Kemunculan buaya bukan hal baru di wilayah tersebut. Warga kerap melihat predator air itu bahkan ada yang berukuran besar. Namun, ini merupakan kali pertama buaya tertangkap.

Setelah berhasil diamankan, buaya yang masih anakan berukuran 1,2 metwr tersebut kemudian dibawa ke darat. Ia mengaku sengaja melakukan hal itu sebagai bentuk kewaspadaan bagi warga sekitar, terutama anak-anak.

"Supaya anak-anak takut mandi di sungai makannya buaya saya bawa ke darat," katanya.

Kejadian ini pun menjadi perhatian warga sekitar. Anak-anak dan orang dewasa tampak berkerumun menyaksikan buaya yang diikat tali tambang di Jalan Iskandar 25.

Tak lama kemudian, komunitas pecinta reptil datang membantu mengamankan buaya tersebut. (DEWI PATMALASARI/j)