JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat mengirim pasukan ke kawasan tersebut.

Rupiah tercatat turun 75 poin ke posisi Rp16.979 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp16.904 per dolar AS.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuabi menilai pelemahan ini dipicu oleh keputusan Amerika Serikat yang meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah, meski sebelumnya sempat mengumumkan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Ia menjelaskan, langkah tersebut memicu kekhawatiran pasar, terutama terkait potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global.

Menurutnya, konflik antara AS dan Iran telah berdampak signifikan terhadap pasokan minyak dunia, yang diperkirakan berkurang hingga 11 juta barel per hari.

Bahkan, Badan Energi Internasional menilai krisis energi saat ini berpotensi lebih besar dibandingkan gabungan krisis minyak pada 1970-an dan konflik gas Rusia-Ukraina.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mulai mengantisipasi meningkatnya tekanan inflasi global. Kondisi ini turut memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

“Sebelumnya pasar memperkirakan ada dua kali pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini. Namun, sejak konflik memanas dan keputusan terbaru bank sentral, ekspektasi tersebut mulai berkurang,” jelas Ibrahim.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan, dari Rp16.903 menjadi Rp16.957 per dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring ketidakpastian global, khususnya terkait perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap pasar energi serta kebijakan moneter dunia.

ANTARA