JAKARTA –

BORNEONEWS, Jenewa – UNICEF mengungkapkan krisis kemanusiaan serius di Lebanon, di mana rata-rata 19.000 anak terpaksa mengungsi setiap hari dalam tiga pekan terakhir akibat serangan Israel yang terus berlangsung.

Perwakilan UNICEF di Lebanon, Marcoluigi Corsi, menyebut dalam kurun tiga pekan lebih dari 370.000 anak telah meninggalkan rumah mereka.

“Artinya, setiap hari ada sekitar 19.000 anak yang terpaksa mengungsi demi keselamatan,” ujarnya dalam pengarahan di Jenewa, Jumat, 27 Maret 2026.

Ia menggambarkan situasi tersebut setara dengan ratusan bus sekolah penuh anak-anak yang mengungsi setiap harinya, mencerminkan besarnya skala krisis.

Menurut Corsi, konflik ini telah memicu perpindahan massal secara cepat dan tidak terkendali. Sekitar 20 persen populasi Lebanon kini mengungsi dalam waktu kurang dari satu bulan, dengan total lebih dari satu juta orang kehilangan tempat tinggal.

“Kecepatan dan skalanya sangat mencengangkan. Banyak keluarga terpisah dan komunitas kosong dalam waktu singkat,” katanya.

Selain dampak fisik, UNICEF juga menyoroti tekanan psikologis berat yang dialami anak-anak. Siklus kekerasan yang berulang dinilai memicu trauma mendalam dan berpotensi menimbulkan kerusakan emosional jangka panjang.

Kondisi di lokasi pengungsian pun memprihatinkan. Lebih dari 135.000 orang kini berlindung di lebih dari 660 titik penampungan yang sebagian besar padat dan tidak layak.

Data sementara mencatat sedikitnya 121 anak tewas dan 395 lainnya mengalami luka-luka akibat konflik tersebut.

Tak hanya itu, layanan dasar juga mulai terganggu. Sistem air mengalami kerusakan, sementara lebih dari 435 sekolah dialihfungsikan menjadi tempat penampungan, yang berdampak pada terganggunya pendidikan lebih dari 115.000 siswa.

“Anak-anak menjadi pihak yang paling terdampak dalam konflik ini,” tegas Corsi.

UNICEF pun menyerukan gencatan senjata segera serta akses kemanusiaan tanpa hambatan agar bantuan dapat menjangkau para korban, khususnya anak-anak.

Sebagai informasi, UNICEF merupakan badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada perlindungan dan pemenuhan hak anak, termasuk di bidang kesehatan, pendidikan, gizi, serta akses air bersih dan sanitasi, terutama dalam situasi darurat.

ANTARA