JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Percepatan adopsi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi dampak lonjakan harga minyak global terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Pengamat otomotif Martinus Pasaribu mengatakan ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak masih cukup tinggi, sehingga rentan terhadap gejolak harga energi dunia.

“Setiap kenaikan harga minyak akan berdampak pada meningkatnya beban subsidi dan kompensasi energi, yang pada akhirnya mengurangi ruang fiskal untuk sektor produktif,” ujarnya, Senin, 30 Maret 2026.

Ia menjelaskan, sekitar 60 hingga 70 persen kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi dari impor, sementara produksi dalam negeri terus mengalami penurunan.

Kondisi tersebut membuat APBN sensitif terhadap fluktuasi harga minyak global, terlebih di tengah ketidakpastian geopolitik, termasuk ketegangan di kawasan Selat Hormuz.

Martinus menyebutkan, dalam asumsi makro, kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS per barel dapat meningkatkan beban subsidi energi hingga Rp8–10 triliun.

Jika harga minyak dunia menembus kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel, total subsidi energi berpotensi membengkak hingga mendekati Rp300 triliun per tahun.

Sebagai solusi jangka panjang, kendaraan listrik dinilai mampu menekan konsumsi bahan bakar minyak secara signifikan. Selain mengurangi impor, langkah ini juga dapat menekan beban subsidi yang selama ini didominasi sektor transportasi.

Dari sisi biaya operasional, kendaraan listrik juga lebih efisien. Rata-rata biaya energi hanya berkisar Rp300–500 per kilometer, jauh lebih rendah dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin yang mencapai Rp1.000–1.500 per kilometer.

Martinus memperkirakan penggunaan satu juta mobil listrik dapat menghemat sekitar 1,25 juta kiloliter BBM per tahun. Sementara lima juta sepeda motor listrik berpotensi menghemat hingga 1,75 juta kiloliter.

Jika digabungkan, penghematan mencapai sekitar 3 juta kiloliter BBM per tahun, yang berdampak signifikan terhadap pengurangan impor minyak.

Dengan asumsi harga minyak global saat ini, penghematan tersebut diperkirakan mampu menekan devisa hingga Rp30–40 triliun per tahun.

Selain itu, transisi ke kendaraan listrik juga memberikan efek ganda, mulai dari mendorong industri baterai dalam negeri, meningkatkan investasi, hingga membuka lapangan kerja baru di sektor energi bersih.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kebijakan terintegrasi dari pemerintah, mulai dari insentif fiskal, pembangunan infrastruktur pengisian daya, hingga penguatan ekosistem industri kendaraan listrik nasional.

“Peralihan ke kendaraan listrik bukan hanya soal energi bersih, tetapi juga strategi menjaga ketahanan fiskal dan kedaulatan energi di tengah ketidakpastian global,” tegasnya.

ANTARA