JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kebiasaan anak yang terlalu sering menggunakan gawai perlu disikapi dengan pendekatan yang tepat. Orang tua disarankan tidak hanya melarang, tetapi juga mengarahkan anak pada aktivitas yang lebih produktif dan bermanfaat.

Guru Besar Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al Quran Jakarta, Prof Susanto, menegaskan bahwa pendekatan inspiratif menjadi kunci dalam mengubah kebiasaan tersebut.

“Pengalihan kebiasaan anak ke arah yang lebih produktif perlu dilakukan dengan cara yang menginspirasi, bukan sekadar larangan,” ujarnya, Senin, 30 Maret 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul diberlakukannya Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang perlindungan anak di ruang digital.

Menurut Susanto, salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mendorong anak mengikuti aktivitas sesuai minat dan bakat, seperti olahraga, seni, sains, hingga kegiatan kewirausahaan sederhana.

Dengan begitu, anak dapat merasakan pengalaman nyata di dunia luar (offline) yang tidak kalah menarik dibandingkan aktivitas digital.

Selain itu, orang tua juga bisa mengenalkan metode pembelajaran berbasis proyek atau project-based learning. Misalnya dengan mengajak anak membuat karya, berkebun, atau terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi penggunaan teknologi. Pendampingan ini sebaiknya dilakukan melalui komunikasi dan kesepakatan bersama, bukan kontrol yang berlebihan.

“Anak cenderung meniru perilaku orang tua. Karena itu, penting bagi orang tua untuk menjadi contoh dalam penggunaan teknologi yang bijak,” jelasnya.

Di sisi lain, teknologi juga tetap bisa dimanfaatkan secara positif, seperti untuk belajar keterampilan baru atau menambah wawasan, bukan hanya sebagai sarana hiburan.

Susanto menambahkan, keberhasilan mengalihkan anak dari ketergantungan gawai membutuhkan kerja sama berbagai pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

Menurutnya, tujuan utama bukan menjauhkan anak dari teknologi, melainkan membekali mereka agar mampu menggunakannya secara bijak tanpa kehilangan jati diri.

ANTARA