BORNEONEWS, Houston – Amerika Serikat dilaporkan memberikan izin kepada kapal tanker Rusia untuk mengirim minyak mentah ke Kuba, meski blokade energi terhadap negara Karibia tersebut masih berlangsung.
Laporan media menyebutkan, kapal tanker tersebut membawa sekitar 730.000 barel minyak mentah dan dijadwalkan tiba di terminal minyak Matanzas, Kuba, pada Selasa.
Pasokan ini diperkirakan mampu menopang kebutuhan energi Kuba selama beberapa pekan, sekaligus meredakan tekanan akibat krisis energi yang tengah melanda negara tersebut.
Sebelumnya, sejak Januari 2026, Amerika Serikat memberlakukan pembatasan ketat terhadap pasokan minyak ke Kuba, bahkan mengancam negara-negara yang tetap mengirimkan bahan bakar.
Dalam beberapa kasus, kapal tanker yang menuju Kuba sempat dicegat. Namun, untuk pengiriman terbaru dari Rusia ini, tidak ada upaya penghentian dari otoritas AS.
Disebutkan, Penjaga Pantai AS sebenarnya memiliki armada di sekitar perairan Kuba yang berpotensi mencegat kapal tersebut, namun langkah itu tidak diambil.
Keputusan ini dinilai sebagai upaya menghindari eskalasi ketegangan langsung dengan Rusia.
Di sisi lain, blokade energi yang diterapkan AS telah memperburuk kondisi di Kuba. Dampaknya meliputi pemadaman listrik, kelangkaan bahan bakar, kenaikan harga kebutuhan, hingga terganggunya layanan kesehatan.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya juga mengkritik kebijakan tersebut karena dinilai berkontribusi terhadap krisis kemanusiaan di Kuba.
Situasi ini turut memicu ketegangan politik. Presiden AS Donald Trump dilaporkan memiliki sikap keras terhadap pemerintah Kuba yang dipimpin Presiden Miguel Diaz-Canel.
Bahkan, muncul pernyataan terkait kemungkinan penggunaan kekuatan militer, meski belum ada langkah konkret ke arah tersebut.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menilai perubahan sistem pemerintahan di Kuba menjadi kunci perbaikan ekonomi negara tersebut.
Di pihak lain, pemerintah Kuba menyatakan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk potensi konflik.
Meski demikian, mereka tetap berharap situasi tidak berkembang menjadi konfrontasi militer terbuka.
ANTARA









