SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menegaskan harapannya agar program konversi minyak tanah ke gas elpiji 3 kilogram dapat segera dituntaskan, mengingat masih ada lima kecamatan yang belum terjangkau dalam program tersebut.

Wakil Bupati Kotawaringin Timur, Irawati, mengatakan bahwa kebutuhan elpiji di daerahnya sangat tinggi. Masyarakat di lima kecamatan yang belum masuk program konversi kini pun banyak yang telah beralih menggunakan kompor gas karena akses minyak tanah yang semakin sulit diperoleh.

“Faktanya kebutuhan kita itu memang tinggi. Masyarakat di lima kecamatan yang belum masuk konversi itu pun kini sudah banyak menggunakan kompor gas karena minyak tanah sulit didapat,” ujarnya, Senin, 30 Maret 2026.

Dari 17 kecamatan yang ada di Kotawaringin Timur, masih terdapat enam kecamatan yang belum tersentuh program konversi, yaitu Kecamatan Kota Besi, Telawang, Mentaya Hulu, Bukit Santuai, Telaga Antang, dan Antang Kalang. Meski belum terjamah oleh program resmi, sebagian besar warga di 80 desa di enam kecamatan tersebut sudah beralih menggunakan elpiji karena dinilai lebih praktis dibanding kompor minyak atau kayu bakar.

Untuk mendapatkan elpiji, warga di daerah tersebut harus membeli dari kecamatan lain yang telah masuk program konversi. Hal ini berpengaruh terhadap meningkatnya permintaan elpiji yang terbatas kuotanya.

Selain kebutuhan rumah tangga, elpiji 3 kg juga sangat penting untuk mendukung pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dalam mengembangkan usaha sehingga berdampak positif pada perekonomian masyarakat.

“Masalah ini juga sudah saya sampaikan kepada Kepala Depo Pertamina Sampit saat mereka berkunjung ke kantor. Selain BBM, kebutuhan elpiji kita juga tinggi. Mudah-mudahan bisa dipenuhi,” harap Irawati.

Harga elpiji di pelosok desa sangat tinggi dan jauh di atas harga eceran tertinggi (HET). Di beberapa wilayah utara, harga elpiji 3 kg berkisar Rp45.000 hingga Rp50.000 per tabung. Bahkan di Desa Tumbang Gagu Kecamatan Antang Kalang, harganya bisa mencapai Rp110.000 per tabung. Warga terpaksa membeli dari desa terdekat di Kabupaten Katingan yang sudah terhubung jalur darat, karena jika menuju pusat kecamatan sendiri, biaya sewa kelotok mencapai Rp6 juta.

“Itu pun asalkan barangnya ada, tetap dibeli warga. Yang jadi masalah ini kan barangnya kadang tidak ada, sementara warga kita memerlukannya,” ungkap Irawati.

Wakil Bupati Kotawaringin Timur berharap pemerintah pusat dan Pertamina dapat membantu memperlancar distribusi elpiji 3 kg serta menjamin harga terjangkau, khususnya bagi enam kecamatan yang belum masuk dalam program konversi minyak tanah ke gas. (DEVIAN/y)