BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Warga di wilayah Palangka Raya dan Kapuas bakal dilewati puncak bulan purnama yang akan terjadi pada tanggal 2 April 2026. Fenomena ini dikenal dengan sebutan “Pink Moon”, meski nama tersebut tidak menggambarkan warna sebenarnya dari bulan.
Menurut prakirawan BMKG Palangka Raya, Muhamad Ihsan Sidiq, istilah Pink Moon berasal dari tradisi penamaan di Amerika Utara yang terkait dengan mekarnya bunga phlox saat musim semi. “Meski disebut ‘Pink Moon’, bulan tidak benar-benar berwarna merah muda,” jelasnya kepada Borneonews, Senin, 30 Maret 2026.
Fenomena Pink Moon berbeda dengan Blood Moon yang terjadi pada 3 Maret lalu. Pada Blood Moon, bulan tampak merah karena hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya matahari dengan panjang gelombang pendek seperti biru tersebar, sementara cahaya merah mencapai permukaan bulan sehingga warnanya terlihat kemerahan.
Sementara itu, Pink Moon hanyalah istilah tradisional dan tidak melibatkan perubahan warna yang nyata. Dengan kata lain, purnama pada tanggal 2 April akan terlihat seperti bulan purnama biasa bagi pengamat dari bumi.
Muhamad Ihsan Sidiq menambahkan, fase puncak bulan purnama dapat diamati jika cuaca mendukung. “Kalau cuaca cerah dan tidak tertutup awan, bulan purnama bisa terlihat dengan jelas,” ujarnya.
Namun, prediksi cuaca untuk wilayah Palangka Raya dan Kapuas pada malam tanggal 1 April hingga pagi 2 April 2026 diperkirakan akan turun hujan. Kondisi ini membuat potensi untuk melihat Pink Moon menjadi kecil.
“Potensinya hujan, sehingga kemungkinan untuk terlihat cukup rendah,” kata Sidiq menegaskan. Meskipun begitu, warga tetap dapat mencoba mengamati purnama jika hujan berhenti atau terdapat celah di antara awan.
Fenomena Pink Moon menjadi momen yang menarik untuk pengamatan bulan dan astronomi sederhana, meski warnanya tidak seperti yang terbayang. Warga dihimbau untuk memanfaatkan waktu cuaca cerah agar dapat menyaksikan purnama secara langsung. (SABRIANOOR/y)









