NANGA BULIK –

BORNEONEWS, Nanga Bulik – Masyarakat Kabupaten Lamandau diminta untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), menyusul lonjakan jumlah kasus dalam beberapa waktu terakhir.

Direktur RSUD Gusti Abdul Gani, dr. Mardoni, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir terjadi peningkatan signifikan pasien yang dirawat akibat DBD.

“Dalam satu minggu ini terdapat 17 pasien yang menjalani perawatan. Saat ini masih ada 6 pasien yang dirawat. Peningkatan ini mulai terlihat sejak 11 Maret,” ujarnya, Selasa, 31 Maret 2026

Sejalan dengan itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Lamandau juga telah mengeluarkan peringatan kewaspadaan, terutama karena kondisi cuaca di musim hujan yang mendukung berkembangnya nyamuk Aedes aegypti sebagai penyebab DBD.

Melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2M), dr. Pippy Yulianti, masyarakat diimbau untuk mengenali gejala DBD sejak dini. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi mendadak selama 2–7 hari, sakit kepala hebat, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, munculnya bintik merah pada kulit, hingga mimisan atau gusi berdarah pada kondisi tertentu.

“Jika mengalami gejala tersebut, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat agar mendapat penanganan secepatnya,” imbaunya.

Berdasarkan data yang dihimpun sejak Januari hingga 24 Maret 2026, Kecamatan Bulik mencatat jumlah kasus tertinggi dengan 46 pasien, disusul Sematu Jaya dan Lamandau masing-masing 2 kasus, serta Batang Kawa 1 kasus.

Secara keseluruhan, jumlah kasus DBD tercatat 12 kasus pada Januari, meningkat menjadi 19 kasus di Februari, dan kembali naik menjadi 20 kasus pada Maret.

Meski tren kasus meningkat, Dinas Kesehatan belum melakukan fogging secara luas. Hal ini disebabkan adanya keterbatasan anggaran sehingga pelaksanaannya harus diprioritaskan.

“Kami masih melihat ketersediaan anggaran. Jika dilakukan fogging, kemungkinan hanya di titik-titik dengan kasus tinggi, tidak secara massal,” jelasnya.

Namun demikian, fogging dinilai bukan solusi utama dalam penanggulangan DBD. Upaya paling efektif tetap melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus.

Perubahan cuaca yang tidak menentu, antara hujan dan panas, juga turut memicu terbentuknya genangan air di lingkungan sekitar. Genangan tersebut kerap ditemukan pada barang bekas seperti ember, pot bunga, kolam tak terpakai, hingga ban bekas yang menjadi tempat ideal berkembangnya jentik nyamuk.

Karena itu, masyarakat diingatkan untuk rutin memeriksa lingkungan sekitar, termasuk area rumah dan sekitarnya.

“Bisa saja rumah kita sudah bersih, tetapi lingkungan sekitar belum. Penularan tetap bisa terjadi dari situ,” tambahnya.

Upaya pencegahan yang dianjurkan meliputi kerja bakti membersihkan lingkungan, menguras tempat penampungan air secara berkala, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas, serta melindungi diri dari gigitan nyamuk dengan penggunaan lotion anti nyamuk atau kelambu. (NATALIA KRISTIN/j)