SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Fenomena El Nino diperkirakan berpotensi memicu musim kemarau panjang di wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) pada tahun 2026.

"Potensinya sekitar 50 sampai 60 persen dan diperkirakan mulai terasa antara Mei hingga Juli. Saat ini masih dalam kategori lemah menuju sedang," ujar Kepala Stasiun Meteorologi (Stamet) BMKG H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo, Selasa, 31 Maret 2026.

Belakangan ini, istilah El Nino Godzilla ramai diperbincangkan publik setelah muncul peringatan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional terkait potensi cuaca ekstrem. Namun, BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut tidak digunakan dalam kajian ilmiah.

"Dalam analisis meteorologi, tidak ada istilah El Nino Godzilla. Kami mengklasifikasikan El Nino berdasarkan kekuatannya, yakni lemah, sedang, dan kuat," ujarnya.

Ia menjelaskan, indikator El Nino kuat ditandai dengan kenaikan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik di atas 2 derajat Celsius. Sementara saat ini, kenaikan suhu masih berada di kisaran 0,5 derajat, sehingga belum masuk kategori kuat.

Meski demikian, BMKG mengingatkan adanya potensi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya di tahun ini. Di Kotim, musim kemarau diprakirakan mulai terjadi pada akhir Mei 2026.

Durasi kemarau diprediksi berlangsung antara 100 hingga 120 hari atau sekitar empat bulan. Kondisi ini lebih panjang dibandingkan rata-rata tahun sebelumnya yang hanya sekitar 60 hari.

"Biasanya kemarau berlangsung enam dasarian atau sekitar dua bulan. Tahun ini bisa mencapai 10 hingga 12 dasarian," tambahnya.

Selain itu, tingkat kekeringan juga diperkirakan lebih tinggi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan gambut yang sulit dipadamkan jika terbakar.

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dengan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

"Kami juga mengingatkan potensi bencana lain seperti kekeringan dan kesulitan air bersih. Masyarakat diharapkan lebih waspada," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/J)