BORNEONEWS, Palangka Raya – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini akan dimulai pada akhir Mei hingga Agustus, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Kondisi ini dinilai berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dan berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Plt Kepala Pelaksana BPBD Palangka Raya Hendrikus Satria Budi menjelaskan, karakteristik musim kemarau tahun ini diperkirakan tidak sama dengan periode kemarau sebelumnya yang cenderung diselingi hujan atau dikenal sebagai "kemarau basah".
Pada 2026, kondisi yang akan terjadi diprediksi lebih kering dengan potensi periode tanpa hujan yang cukup panjang.
"Kalau tahun sebelumnya kita sering menyebutnya kemarau basah karena masih ada hujan. Tahun ini diprediksi lebih kering, bahkan bisa berlangsung sekitar empat bulan tanpa hujan. Ini tentu menjadi perhatian serius bagi kami," jelasnya, Rabu, 1 April 2026.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi kondisi tersebut, BPBD Kota Palangka Raya terus mencermati kesiapan anggaran, termasuk kemungkinan penggunaan Belanja Tidak Terduga (BTT).
Namun penggunaan anggaran tersebut tetap akan disesuaikan dengan kondisi di lapangan serta melalui mekanisme penetapan status kebencanaan yang berlaku.
Meski saat ini wilayah Kota Palangka Raya masih berada dalam periode musim hujan, BPBD telah mencatat adanya puluhan kejadian kebakaran di berbagai lokasi.
Data sementara menunjukkan terdapat sekitar 21 kejadian kebakaran yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
BPBD menyampaikan bahwa pemantauan terhadap kondisi lingkungan dan potensi titik api akan terus ditingkatkan.
"Selain itu, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam mencegah terjadinya kebakaran selama musim kemarau mendatang," pungkasnya. (PATHUR/R)









