BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Setelah jeda libur Natal, harga minyak sawit Malaysia melonjak 2,06 persen pada akhir sesi pertama Selasa (27/12/2016). Pendorongnya adalah data melambatnya ekspor dan penguatan harga minyak nabati pesaing di Dalian dan Chicago.
Futures minyak sawit Malaysia untuk kontrak Maret, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat menjadi 3.123 ringgit ($697.72) per ton.
Sementara pekan lalu, harga kontrak itu merosot 3,2 persen, yang merupakan penurunan terbesar dalam empat pekan. volume perdagangan kemarin masih tipis, yakni sebesar 12.489 lot.
Seorang pelaku pasar yang dikutip Reuters mengatakan, meski masih banyak pelaku pasar yang belum kembali dari libur Natal, tapi data yang menyebutkan terjadi penurunan ekspor sawit telah memberikan dorongan bagi kinerja positif di pasar.
Ekspor produk sawit Malaysi pada periode 1-25 Desember turun 5,6 persen menjadi 845.441 ton dari 895.625 ton pada periode 1 - 25 November, menurut data dari Intertek Testing Services. Sedangkan data untuk 1 - 20 Desember menunjukkan penurunan 14,4 persen dan memberikan tekanan terhadap pasar pada saat itu.
"Dengan kondisi pasar eksternal yang bergairah dan dukungan dari kondisi domestik, pasar diprediksi masih akan positif," kata pelaku pasar asal Kuala Lumpur itu.
Menurut dia, level support untuk futures minyak sawit berada di angka 3.100 ringgit, dengan level resistance di angka 3.140 ringgit.
Pelaku pasar lain mengatakan, pasar komoditas di China juga sedang bergairah menjelang perayaan Imlek pada akhir Januari, yang diwarnai dengan tingginya pembelian minyak nabati pesaing minyak sawit, sehingga diprediksi akan ikut mendongkrak harga minyak sawit.
Untuk futures minyak kedelai kontrak Mei, DBYcv1, di Dalian Commodity Exchange, menguat 1,46 persen, sedangkan kontrak olein sawit, DCPcv1, naik 2,2 persen. Di Chicago Board Of Trade, futures minyak kedelai kontrak Januari, BOv1, naik 0,75 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)








