BORNEONEWS, Palangka Raya - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 mulai memberikan dampak nyata terhadap pasar komoditas global, termasuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil atau CPO. Konflik yang telah berlangsung lebih dari empat minggu ini dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pengamat Ekonomi dan Perkebunan Kalteng Rawing Rambang mengatakan, eskalasi konflik berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia, terutama akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz yang menyuplai sekitar 20 persen minyak global.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent bahkan sempat menembus US$100 per barel, tertinggi sejak 2022.
“Kenaikan harga minyak ini otomatis mendorong harga CPO karena keduanya bersaing sebagai sumber energi alternatif, khususnya biodiesel,” ujar Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 1 April 2026.
Ia menyebutkan, harga CPO saat ini telah mencapai Rp15.615 per kilogram dan mengalami kenaikan sekitar 9,62 persen sejak awal konflik. Bahkan, jika ketegangan terus berlanjut, harga komoditas unggulan Indonesia itu diproyeksikan bisa menembus Rp20.000 per kilogram.
Dalam jangka pendek, kenaikan harga CPO dinilai dapat memberikan angin segar bagi kinerja ekspor nasional. Namun, Rawing mengingatkan adanya risiko volatilitas pasar global yang tinggi, mengingat sekitar 60 persen produksi CPO Indonesia bergantung pada pasar ekspor.
“Ini seperti pedang bermata dua. Di satu sisi menguntungkan, tapi di sisi lain sangat rentan. Ketika harga terlalu tinggi, negara importir bisa menahan pembelian,” tegasnya.
Ia pun berharap konflik geopolitik tersebut segera berakhir agar tidak semakin menekan stabilitas ekonomi global maupun nasional. “Dampaknya sudah terasa, bukan hanya pada energi, tapi juga pada komoditas strategis seperti sawit,” tandas Dosen Ilmu Pertanian, Universitas Kristen Palangka Raya ini. (TESTI PRISCILLA/H)









