SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Harga cabai rawit di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai mengalami penurunan setelah sempat melonjak tinggi menjelang Hari Raya Idulfitri 2026.

"Dua hari jelang Lebaran sempat Rp150 ribu, sekarang turun jadi Rp90 ribu per kilogram," kata seorang pedagang di Pasar Mangkikit atau Pasar Subuh Sampit, Ipal Ardianto, Jumat, 3 April 2026.

Meski mengalami penurunan, harga tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan harga normal yang biasanya berkisar antara Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.

Kenaikan harga cabai diketahui sudah terjadi sejak awal Ramadan dan mencapai puncaknya menjelang Lebaran. Saat ini, harga mulai berangsur stabil meskipun belum kembali ke level normal.

Pantauan di Pasar Mangkikit, cabai rawit dijual di kisaran Rp90 ribu per kilogram. Sementara itu, cabai keriting yang sebelumnya sempat menyentuh Rp120 ribu per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp50 ribu per kilogram.

Pedagang mengaku tidak mengetahui penyebab lonjakan harga tersebut, mengingat pasokan cabai sebagian besar berasal dari Pulau Jawa.

Menariknya, tingginya harga cabai tidak terlalu berdampak pada daya beli masyarakat. Bahkan, saat harga tinggi, permintaan justru cenderung meningkat.

"Kalau harga tinggi malah ramai yang beli, tapi kalau murah justru sepi. Mungkin kalau murah banyak yang stok di rumah," katanya.

Selain cabai, sejumlah bahan pokok lainnya juga mengalami kenaikan harga. Tomat misalnya, kini dijual Rp25 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp10 ribu. Begitu pula bawang merah yang naik dari Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram. Sementara itu, untuk bawang putih relatif stabil di harga Rp30 ribu per kilogram. 

"Kami berharap pemerintah daerah dapat memperhatikan fluktuasi harga kebutuhan pokok tersebut agar tetap stabil, sehingga tidak berdampak pada daya beli masyarakat maupun pendapatan pedagang," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)