BORNEONEWS, Sampit – Pelaku usaha di Sampit menghadapi tekanan akibat lonjakan harga plastik kemasan yang memasuki level kritis dalam beberapa pekan terakhir.
Kenaikan ini mencerminkan ketidakstabilan pasokan bahan baku plastik akibat dinamika pasar global yang berdampak langsung ke tingkat lokal, menguji daya tahan usaha kecil dan mikro yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Aril, pedagang plastik di Sampit mengungkapkan bahwa peningkatan harga plastik bukan sekadar fluktuasi kecil, melainkan perubahan harga yang dramatis dan menghentak, bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat harga sebelumnya.
“Kenaikannya sudah dari pertengahan puasa. Awalnya pelan, tapi sekarang tinggi sekali. Ini bukan sekadar naik, tapi sudah seperti ganti harga,” tegas Aril, Jumat, 3 April 2026.
Penyebab utama kenaikan ini terkait dengan tersendatnya distribusi minyak mentah global, yang merupakan bahan baku utama produksi plastik.
Keterbatasan pasokan minyak berdampak berantai pada ketersediaan plastik di pasar domestik, sehingga harga melonjak tajam.
“Bahan plastik itu turunan dari minyak yang diolah lagi. Kalau minyaknya tersendat, bahan bakunya juga ikut susah,” jelasnya.
Lonjakan harga plastik transparan yang biasanya berharga Rp10 ribu kini melonjak menjadi Rp17 ribu, sementara plastik kemasan es melonjak dari Rp34 ribu menjadi Rp55 ribu per pack.
Plastik kantong dan plastik cup minuman juga tidak luput dari kenaikan signifikan, masing-masing naik dua kali lipat bahkan lebih, yang secara langsung menambah beban modal para pelaku usaha.
Situasi ini memaksa pedagang dan pelaku usaha mikro menyesuaikan strategi ekonomi mereka. Pengelolaan stok menjadi lebih ketat karena risiko kerugian akibat harga yang tidak stabil, sekaligus memaksa mereka menekan margin keuntungan dan mengurangi volume produksi demi kelangsungan usaha.
Dilema nyata muncul ketika kenaikan biaya produksi tidak serta-merta bisa diteruskan ke konsumen, mengingat daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya pasca pandemi dan kondisi ekonomi global yang belum kondusif.
“Pelaku usaha kecil seperti kami harus berjuang keras agar harga jual tidak terlalu memberatkan konsumen, namun kami secara tidak langsung harus menanggung biaya yang membengkak,” ujarnya.
Fenomena ini memberikan gambaran tajam tentang bagaimana ketergantungan ekonomi lokal terhadap rantai pasok global dapat menghadirkan risiko sistemik, terutama bagi sektor usaha kecil dan menengah.
Jika tidak ditangani dengan kebijakan strategis dan dukungan konkret, tekanan biaya ini berpotensi mempersempit ruang gerak pelaku usaha kecil, bahkan memicu terjadinya gelombang penutupan usaha yang berdampak pada penurunan pendapatan dan meningkatnya angka pengangguran di Kotawaringin Timur.
Kondisi saat ini menuntut sinergi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan stakeholder lain untuk segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari perbaikan distribusi, diversifikasi bahan kemasan alternatif, hingga pemberian stimulus yang mendukung kelangsungan usaha.
Transformasi yang cerdas dan cepat menjadi keharusan agar ekonomi lokal tetap tangguh menghadapi guncangan pasar global yang semakin dinamis dan tidak menentu. (DEVIANA/R)









