PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Isu hubungan antara industri kelapa sawit dan deforestasi kembali menjadi sorotan. Chief Sustainability Officer, Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo menilai narasi yang berkembang selama ini tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Henky, anggapan bahwa konservasi orangutan selalu berseberangan dengan industri sawit tidak dapat dijadikan dasar kuat dalam menilai suatu produk.

Ia menyebut, persoalan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh dinamika politik dan persaingan di pasar global.

“Isu orangutan versus sawit tidak bisa dijadikan alasan utama untuk memboikot produk sawit. Ini lebih ke arah politik dan kepentingan pasar global,” ujar Henky kepada Borneonews pada Sabtu, 3 April 2026.

Hal ini pulalah yang menjadi poin diskusi yang disampaikan Henky saat bertemu dengan delegasi parlemen Inggris usai mengunjungi area konservasi Orangutan di Pulau Salat, Desa Pilang, Kabupaten Pulang Pisau baru-baru ini.

Henky juga menilai, tudingan deforestasi yang kerap diarahkan ke sawit perlu dilihat secara lebih objektif dan menyeluruh.

"Persoalan lingkungan ini bersifat universal, sehingga tidak tepat jika hanya satu komoditas yang menjadi sasaran, sementara komoditas lain yang berpotensi lebih besar terhadap deforestasi luput dari perhatian," tegas Henky.

Sementara itu CEO Borneo Orangutan Survival Foundation atau BOSF, Dr Jamartin Sihite yang mendampingi kunjungan ke Pulau Salat tersebut menjelaskan bahwa delegasi Parlemen Inggris bersama International Conservation Caucus Foundation atau ICCF Inggris dan ICCF Indonesia datang untuk meninjau berbagai bentuk kolaborasi BOSF dengan pihak lainnya.

"Kita bawa delegasi Inggris ini ke Pulau Salat karena memang yang dituju adalah proyek kolaborasi konservasi yang kita tekankan. Karena ini Pulau Salat merupakan kolaborasi BOSF dengan SSMS maka kita ajak kesini untuk melihat langsung," kata Jamartin. (TESTI PRISCILLA/j)